Duit Rp 1,6 Triliun Mengucur untuk Restorasi Gambut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 50 ha lahan gambut di meranti terbakar. (FOTO: Satgas Udara).

    50 ha lahan gambut di meranti terbakar. (FOTO: Satgas Udara).

    TEMPO.CO, Palembang - Sejumlah negara donor mengucurkan bantuan hingga US$ 125 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun untuk upaya restorasi lahan gambut yang akan dilakukan pemerintah di sejumlah provinsi. Upaya restorasi itu akan dilakukan dalam beberapa tahun ke depan.

    Baca:
    PNS Ini Tetap Digaji Rp 53 Juta per Bulan meski Telah Di-PHK
    Polri dan TNI Dapat Hibah Miliaran, Ini Penjelasan Ahok
    Nikita Mirzani Akhirnya Buka Masalah Nafa Urbah dengan Zack

    "Itu dana untuk kerja restorasi gambut selama tiga tahun ke depan," ucap Nazir Foead, Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), di Palembang, Rabu, 19 Oktober 2016. Nazir ditemui setelah meninjau lahan gambut di Sumatera Selatan bersama Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Stig Traavik.

    Nazir mengatakan bantuan tersebut berasal dari Norwegia, Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, dan negara Eropa lain. Tidak hanya memberi uang, donor juga memberi bantuan teknologi dan tenaga ahli.

    Nazir mencontohkan, Norwegia, selain memberi hibah berupa US$ 800 juta untuk pasar karbon, membantu pemetaan lahan dan projek terkait dengan gambut dengan nilai hingga US$ 15 Juta. Dengan banyaknya bantuan itu, ia optimistis target merestorasi 2,4 juta lahan gambut di tujuh provinsi dapat dipenuhi.

    Adapun Stig Traavik menuturkan Sumatera Selatan memiliki lahan gambut yang sebagian besar berada di area yang sulit dijangkau, sehingga pada saat terjadi kebakaran sangat sulit dipadamkan. Hal itu ia temukan ketika melakukan Joy Flight bersama Kepala BRG di atas lahan gambut.

    Menurut Traavik, pencegahan merupakan langkah terbaik untuk mengurangi risiko kerusakan lahan gambut. "Potensi gambut di Sumatera Selatan sangat luas. Ini merupakan suatu tantangan bagi kami," ucapnya.

    Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin mengatakan pihaknya sangat terbantu dengan adanya hibah dari Norwegia. Untuk mengatasi kerusakan lahan gambut, dia memastikan tidak akan mampu didanai secara mandiri oleh anggaran negara ataupun pemerintah daerah.

    Menurut dia, cakupan lahan yang rusak sudah mencapai 700 ribu hektare, sementara untuk restorasi setiap 1 hektare dibutuhkan dana hingga Rp 30 juta. "Norwegia juga membatu kami menanggulangi kerusakan 150 ribu hektare hutan di Sembilang Dangku," ujarnya.

    PARLIZA HENDRAWAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.