Jangan Campuradukkan Persoalan Agama dalam Pilkada

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Indonesia terdiri atas berbagai suku dan agama, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

    Indonesia terdiri atas berbagai suku dan agama, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

    INFO MPR - Wakil Ketua MPR RI Mahyudin mengingatkan agar urusan politik dan agama tidak dicampuradukkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semua warga, apa pun latar belakang pekerjaan dan agamanya, harus menyadari bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat plural. Indonesia terdiri atas berbagai suku, juga agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

    “Karena banyaknya perbedaan itu, jangan sekali-sekali mencampuradukkan persoalan agama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Mahyudin saat membuka sosialisasi Empat Pilar MPR RI di hadapan Pimpinan Pusat Kolektif dan Anggota Kosgoro 1957. Acara ini digelar di Ruang Sidang Utama Nusantara V, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, Rabu, 19 Oktober 2016.

    Hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 Agung Laksono, Ketua Fraksi Golkar di MPR RI Rambe Kamarulzaman, serta anggota MPR RI Golkar Syamsul Bachri dan Azhar Romli.

    Mahyudin menyoroti pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) saat ini. Dia mengakui, pelaksanaan pilkada diisi dengan berbagai hasutan mengatasnamakan agama. Akibatnya, muncul konflik di tengah-tengah masyarakat.

    “Seperti pra-pelaksanaan pilkada serentak ini. Belum apa-apa sudah gaduh, agama dibawa-bawa ke ranah politik. Jika dipaksakan, akan terjadi konflik antar-rakyat. Dalam politik dan berbangsa bernegara, kita harus berpedoman pada Pancasila sebagai alat pemersatu,” kata Mahyudin.

    Sementara itu, Agung Laksono mengapresiasi penyelenggaraan Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada Kosgoro 1957. Misi dan tujuan Kosgoro mengacu pada Empat Pilar yang ditujukan kepada generasi muda untuk melakukan deradikalisasi yang saat ini makin marak di Indonesia.

    “Radikalisasi itu pasti mengarah pada keinginan untuk melakukan kekerasan. Apakah itu aksi terorisme atau yang lainnya. Kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah sampai kapan pun, malah kekerasan akan menimbulkan masalah baru,” ujar Agung. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.