Balap Sepeda Tour de Siak Diikuti Tujuh Negara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA/Yudhi Mahatma

    ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Pekanbaru – Lomba balap sepeda Internasional Tour de Siak 2016 terlihat sepi peserta pembalap asing. Balap sepeda hanya diikuti oleh tujuh negara yang terdiri atas lima tim dari luar negeri serta delapan tim dari dalam negeri. Dua tim dari Malaysia menyatakan mundur menjelang lomba yang akan dimulai Rabu, 19 Oktober 2016.

    Ketua Ikatan Sepeda Indonesia Kabupaten Siak, Yan Prana Jaya, menjelaskan sedikitnya peserta dari negara lain yang mengikuti balap sepeda Tour de Siak karena ada sejumlah lomba serupa di Malaysia dan Abu Dhabi.

    "Di Malaysia ada event Jelajah Malyasia, begitu juga di Abudabi, ada event yang sama," kata Yan kepada Tempo, Selasa, 18 Oktober 2016.

    Alasan ini membuat dua tim dari Malaysia Micon dan Terengganu menyatakan mundur menjelang start dimulai. "Mereka lebih memilih bermain di Jelajah Malaysia," katanya.

    Meski demikian, kata Yan, satu tim dari Malaysia, Selangor, masih turut serta meramaikan kegiatan yang keempat kalinya di gelar di Negeri Istana ini.

    Balap sepeda Tour de Siak tahun ini tidak juga tidak diikuti oleh pembalap dunia Iran. Peserta lebih banyak berasal dari negara Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, Filipina, Singapura, Thailand, dan Taiwan.

    Tour de Siak 2016 masuk ke kalender rutin Union Cycling International (UCI). Para peserta akan unjuk kekuatan dengan menaklukkan sejumlah lintasan yang terbagi atas empat etape.

    Etape I, Siak-Simpang Dayun sepanjang 154,15 kilometer. Etape II, Siak-Sungai Apit sepanjang 115,45 kilometer. Etape III, Siak-Perawang sepanjang 182,12 kilometer, dan etape 4 Siak City Race sepanjang 110 kilometer.

    Para pembalap akan melintasi jalan berliku dan tanjakan serta pemandangan alam yang di antaranya perkebunan kelapa sawit.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.