Halilintar II Sambar Pabrik Miras Ilegal di Depok

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Melalui operasi itu, Bea Cukai menyita 1.341 botol minuman mengandung etil alkohol (MMEA).

    Melalui operasi itu, Bea Cukai menyita 1.341 botol minuman mengandung etil alkohol (MMEA).

    INFO NASIONAL - Dalam Operasi Halilintar II, aparat gabungan dari Kanwil Bea Cukai Jawa Barat dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya (KPPBC TMP) A Bogor berhasil membongkar peredaran gelap minuman mengandung etil alkohol (MMEA) beserta pabriknya yang tidak memiliki izin (ilegal) di wilayah Depok.

    Kepala Kantor KPPBC TMP A Bogor Gatot Hariyo Sutejo mengungkapkan, keberhasilan tim tersebut berawal dari informasi intelijen tentang dugaan upaya pengangkutan etil alkohol tanpa dilindungi dokumen cukai di wilayah Jawa Barat. Kemudian, petugas melakukan pemantauan terhadap mobil minibus Suzuki APV warna hitam bernomor polisi B-1532-TOT yang keluar dari salah satu perumahan di Depok, Jawa Barat menuju Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

    Dari hasil pemantauan di dekat kampus ISTN, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, mobil tersebut sedang dimuati barang-barang kena cukai etil alkohol untuk dibawa ke perumahan di wilayah Depok. Petugas terus membuntuti dan melakukan pengejaran hingga ke tujuan akhir di sebuah bangunan.

    “Setelah itu, tim bergerak untuk memeriksa mobil, dan mobil itu kedapatan sebanyak 26 jeriken berisi 30 liter serta satu jeriken berisi 20 liter tanpa dilindungi dokumen cukai. Selanjutnya, kami menegah barang tersebut untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Sutejo ketika menceritakan kronologis pengungkapan saat jumpa pers di Aula Gedung KPPBC Bogor, Senin, 17 Oktober 2016.

    Dari penegahan itu, tim menemukan bangunan gedung yang dipakai untuk membuat minuman etil alkohol. Di sana, petugas menemukan peralatan pembuatan MMEA, bahan baku EA, bahan penolong, dan hasil produksi merek Mansion House dengan jenis vodka dan whisky sebanyak 1.341 botol tanpa dilekati pita cukai. Selanjutnya, selain menyita barang bukti minuman keras (miras), petugas mengamankan pelaku berinisial SS, 34 tahun.

    “Tersangka SS mengaku memproduksi sendiri MMEA sejak tiga tahun lalu dengan perkiraan omzet produksi 60-100 dus per bulan yang dijual di daerah Jagakarsa secara keliling. Masing-masing dus berisi 24 botol dengan ukuran 250 mililiter seharga Rp 400 ribu dan ukuran 350 mililiter atau jumbo Rp 500 ribu per dus,” kata Sutejo.

    Tersangka SS terancam hukuman penjara minimal satu tahun, paling lama lima tahun, dan pidana denda paling sedikit dua kali, dan maksimal 10 kali nilai cukai yang harus dibayar. Pelaku juga terancam hukuman terkait pemalsuan merek dan hak cipta. Sebab, pabrik resmi MMEA Mansion House jenis whisky dan vodka berada di kawasan Tangerang, Banten.

    Dari pengakuan tersangka, kegiatan ilegal tersebut sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu. Akibatnya, negara berpotensi merugi dari sisi materi lebih dari Rp 2,4 miliar. “Kerugian inmaterial juga lebih besar lagi, yakni timbulnya dampak negatif pada kehidupan sosial dan masyarakat. Alhasil, berbagai tindak kriminal dan memburuknya kesehatan semakin mengancam masyarakat. Sebab, produk MMA tersebut tidak melalui uji kelayakan konsumsi dari Badan POM RI,” tutur Sutejo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.