Lindungi Peringatan Asyura, Aktivis Puji Polisi Semarang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah satu pemimpin ormas Islam bersama Kapolrestabes Semarang menuju masjid yang berdekatan dengan lokasi perayaan Asyuro kelompok Islam Syiah di kampung Boom Lama, Semarang, Jawa Tengah, 11 Oktober 2016. Budi Purwanto

    Salah satu pemimpin ormas Islam bersama Kapolrestabes Semarang menuju masjid yang berdekatan dengan lokasi perayaan Asyuro kelompok Islam Syiah di kampung Boom Lama, Semarang, Jawa Tengah, 11 Oktober 2016. Budi Purwanto

    TEMPO.CO, SEMARANG – Upaya Kepolisian Resort Kota Besar Kota Semarang memberikan perlindungan kegiatan Asyuro (10 Muharram) kepada penganut Muslim Syiah di Semarang diapresiasi aktivis Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Jawa Tengah.  

    Tedi Kholiluddin, aktivis eLSA menyatakan kegiatan Asyuro Masjid Yayasan Nuruts Tsaqolain, Kota Semarang bisa dilaksanakan meski hendak digagalkan beberapa kelompok yang mengatasnamakan umat Islam. “Jika kepolisian tak memberi perlindungan dan pengamanan maka penganut Syiah tak bisa melakukan kegiatan sesuai keyakinannya,” kata dia kepada Tempo di Semarang, Rabu 12 Oktober 2016.

    Bahkan, kata Tedi, jika aparat kepolisian tidak menjaga di sekitar lokasi kegiatan maka berpotensi terjadi bentrok. Sebab, beberapa organisasi sudah mendekat ke lokasi Asyuro, tapi dihalau polisi. 

    Tedi menyatakan kinerja kepolisian Semarang itu bisa menepis anggapan selama ini dimana polisi sering tak memberikan perlindungan terhadap kaum minoritas.

    Acara peringatan 10 Muharram penganut Syiah di Jawa Tengah memang dijaga ketat aparat kepolisian, Selasa (11 Oktober 2016). Penjagaan itu dilakukan setelah mengetahui ada kelompok yang menolak dan ingin menggeruduk acara tersebut.

    Kelompok yang menginginkan Asyuro dibubarkan mencapai ratusan orang. Mereka membawa berbagai atribut seperti bendera. Mereka berseragam hitam-hitam dan ada yang menggunakan topeng. Mereka berasal dari beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah seperti Solo, Kendal, Magelang, Yogyakarta dan lain-lain.

    Aparat kepolisian lalu menempatkan pasukan di berbagai sudut gang masuk lokasi acara Asyura. Mereka mencegah massa yang akan masuk ke lokasi acara Asyuro. Sebelumnya, para pendemo ini menggelar apel siaga di Simpang Lima pada pagi haria. Setelah itu, mereka melakukan audiensi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di kantor gubernuran. Usaha mereka membubarkan acara Asyuro tak berhasil karena dihalangi aparat kepolisian.

    Kapolrestabes Semarang Komisaria Besar Abiyoso Seno Aji menyatakan kegiatan ini dilindungi UU. "Sudah kewajiban kami melindungi. Jika ada yang nekad yang menginisiasi membubarkan maka akan berhadapan dengan kami," katanya.

    Tedi menyatakan kejadian tersebut menunjukan di Jawa Tengah masih banyak bercokol organisasi yang berpotensi merusak kebhinekaan.

    Tedi mengajak kelompok beragama untuk terus mengawal dan memastikan bahwa hak semua warga bernegara bisa memiliki kebebasan beragama dan berkeyakinan. “Syiah yang merupakan kelompok yang berkomitmen terhadap negara Indonesia tak perlu diragukan lagi nasionalismenya,” kata Tedi.

    ROFIUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.