Ridwan Kamil Sebut Filosofi Tri Tangtu di Bali, Apa Itu?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto Ridwan Kamil mendekap boneka beruang di instalasi karya pameran arsitektural Selasar Sunaryo Art Space Bandung, 2 September-2 Oktober 2016. ANWAR SISWADI

    Foto Ridwan Kamil mendekap boneka beruang di instalasi karya pameran arsitektural Selasar Sunaryo Art Space Bandung, 2 September-2 Oktober 2016. ANWAR SISWADI

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menjelaskan Filososi Tri Tangtu dalam acara World Culture Forum hari ini, Selasa, 11 Oktober 2016 di Bali Nusa Dua Convention Center. Menurut dia, Tri Tangtu serupa dengan filosofi di Bali, yakni Tri Hita Karana.

    Ridwan Kamil menjelaskan, filosofi itu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-sehari. "Walaupun stres kota banyak bangunan, sungainya dihormati lagi, pohon-pohon, dan sayuran ditanami lagi," katanya.

    Tri Tangtu, lanjut Ridwan Kamil, harus bisa menjadi nafas kehidupan warga Bandung, walaupun tinggal di kota. "Tujuan akhirnya keseimbangan, kalau (Tri Tangtu) dilaksanakan kebahagiaan hakiki manusia hadir. Kalau tidak dilaksanakan manusia hanya jadi robot," ujarnya. "Hidup untuk mencari makan, selesai."

    Baca: Data IPW: Setiap Tahun Rata-rata 200 Polisi Terlibat Narkoba

    Menurut Ridwan Kamil, tantangan kekinian untuk memaknai Tri Tangtu bagi masyarakat Bandung adalah membangun kesadaran. Yakni, kata Emil agar masyarakat paham bahwa hidup ini tidak satu dimensi yang hanya fokus ingin kaya kalau pergi ke kota. "Hidup tidak sedangkal itu kan?" ujarnya.

    Ia menuturkan untuk menumbuhkan kehidupan masyarakat kota yang serasi dengan alam, ia berupaya untuk memperbanyak taman. "Kalau di desa kan banyak alami. Kalau di kota susah, maka urban farming, berkebun di tingkat (Rukun Warga) RW bagian dari itu," tuturnya.

    World Culture Forum II ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dari 10-14 Oktober 2016. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan forum tersebut akan membahas terkait peran budaya dalam pembangunan yang berkelanjutan.

    Baca: Tiket Pesawat Jadi Novum, Gugatan Penolak Semen Dikabulkan

    “Pembangunan saat ini selalu fokus terhadap ekonomi, bagaimana ekonomi bisa tumbuh. Hal itu yang selama ini menjadi ukuran keberhasilan sebuah bangsa dalam pembangunan,” kata Hilmar di Bali, Senin, 10 Oktober 2016.

    Menurut Hilmar, peran kebudayaan dalam pembangunan yang berkelanjutan sangat penting untuk memberikan ruang bagi masyarakat terlibat dalam proses pembangunan. Dalam forum tersebut, kata dia, para peserta akan merumuskan sebuah platform untuk rekomendasi cara baru menempatkan budaya sebagai bagian dari pembangunan.

    Sebelumnya, dalam WCF pertama yang digelar di Bali pada 2013, forum budaya menghasilkan the Bali Promise (Janji Bali) yang dicantumkan dalam Resolusi Sidang Umum Persatuan Bangsa Bangsa 68/233 tanggal 20 Desember 2013. Janji Bali tersebut menyoroti kekuatan budaya sebagai dimensi keempat dari pembangunan berkelanjutan.

    Baca: Elpiji Berisi Air Tersebar di Tiga Kecamatan Depok

    Hilmar berharap dalam WCF kali ini, para peserta simposium sebanyak 900 orang yang terdiri dari 47 negara bisa saling berbagi pengalaman bagaimana menempatkan peran kebudayaan daam pembangunan. “Kami berharap forum bisa merumuskan langkah konkrit bagaimana menerapkan peran budaya dalam setiap sektor pembangunan,” ujar dia.

    BRAM SETIAWAN | ANGGA SUKMAWIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe