Selasa, 17 September 2019

MaPPI: Penanganan Kekerasan Seksual Tak Sesuai Harapan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. bbc.co.uk

    Ilustrasi. bbc.co.uk

    TEMPO.COJakarta - Penanganan kekerasan seksual tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Hal ini tergambar dalam survei yang dilakukan Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI) Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

    Peneliti dari MaPPI, Muhammad Rizaldi, mengatakan masyarakat berharap penegak hukum menjatuhkan sanksi maksimal terhadap pelaku kekerasan seksual. Selama ini, rata-rata vonis yang diberikan kepada pelaku kekerasan seksual adalah 4 tahun 3 bulan penjara. "Penjatuhan vonis terhadap pelaku kurang memadai, ini tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat dan korban," katanya di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Ahad, 9 Oktober 2016.

    Selain vonis yang dijatuhkan rendah, hakim dianggap tidak konsisten dalam menjatuhkan hukuman. Dalam perkara yang serupa, hukuman yang dijatuhkan bisa bermacam-macam. "Ada yang cuma setahun, ada yang 12 tahun. Tidak ada kepastian hukum," ujarnya.

    Menurut Rizaldi, pertimbangan hakim dalam memutus perkara harus diperjelas. Banyak faktor eksternal yang bagi sebagian hakim bisa memberatkan, tapi bagi hakim yang lain malah meringankan.

    Masyarakat, kata Rizaldi, juga menilai penegak hukum seharusnya tak berhenti setelah menghukum pelaku. Pelaku kekerasan seksual semestinya juga direhabilitasi agar tida melakukannya lagi di kemudian hari.

    Survey ini dilakukan di 34 provinsi dengan melibatkan 2.040 koresponden. Survei dilakukan untuk mengetahui bagaimana masyarakat memandang keadilan dalam penanganan kekerasan seksual.

    MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.