AJI: Media Banyak Beri Panggung buat Pendukung Hukuman Mati

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Koordinator KontraS, Puri Kencana Putri, memandu kegiatan Pelatihan Jurnalis tentang Anti Hukuman Mati dalam Perspektif HAM di Hotel Cemara, Jakarta, 6 Oktober 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    Wakil Koordinator KontraS, Puri Kencana Putri, memandu kegiatan Pelatihan Jurnalis tentang Anti Hukuman Mati dalam Perspektif HAM di Hotel Cemara, Jakarta, 6 Oktober 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    TEMPO.COJakarta - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), bekerja sama dengan Amnesty International, mengadakan kegiatan "Pelatihan Jurnalis tentang Advokasi Anti-Hukuman Mati dalam Perspektif Hak Asasi Manusia" di Hotel Cemara, Jakarta Pusat, Kamis, 6 Oktober 2016.

    Wakil Koordinator Kontras Puri Kencana Putri mengatakan, untuk pertama kalinya, Kontras mengadakan pelatihan advokasi bagi jurnalis. "Kami jarang membuat model pelatihan seperti ini. Ini semangat baru," ucapnya. Pelatihan ini juga diadakan untuk menyambut Hari Anti-Hukuman Mati Sedunia setiap 10 Oktober.

    Puri mengatakan peran jurnalis penting karena merekalah yang mengabarkan berita terbaru tentang hukuman mati. "Tahun lalu kami mengadakan pelatihan advokasi anti-hukuman mati bagi pengacara hukuman mati," ujar Putri Kanesia, Kepala Divisi Pembelaan Hak Sipil Politik Kontras.

    Pelatihan ini diikuti enam jurnalis dari media online, cetak, radio, dan televisi. Media itu di antaranya Tirto.id, iNews, Al-Jazeera Biro Jakarta, CNN Indonesia, dan Tempo.

    Ketua Aliansi Jurnalis Independen Jakarta Ahmad Nurhasim mengatakan masalah peliputan hukuman mati adalah penegak hukum tertutup untuk isu ini. Dia juga menilai Kejaksaan Agung tidak transparan kepada wartawan, keluarga terpidana mati, dan publik.

    "Masalah lain adalah perspektif jurnalis atau media, misalnya memberi panggung yang lebih banyak kepada narasumber yang mendukung hukuman mati," kata Nurhasim, yang mengisi pelatihan. Dia juga mengatakan hukuman mati lebih banyak diberitakan menjelang eksekusi mati.

    Kontras pun menghadirkan pendamping terpidana mati Merry Utami, Arinta Dea Dini Singgi. Arinta, yang juga staf Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat, menceritakan pengalamannya saat berada di Cilacap, Nusakambangan, Jawa Tengah, menjelang eksekusi pidana mati jilid III, akhir Juli 2016. 

    Dia mengira Merry Utami juga ditembak malam itu, tapi kejaksaan urung melakukannya. "Dia baru dikeluarkan dari sel isolasi baru-baru ini, setelah anaknya mengadakan aksi di Kejaksaan Agung," ucapnya.

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.