Anggota DPR Sareh Wiyono Bantah Suap Rohadi Rp 700 Juta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Komisi III DPR RI dari fraksi Fraksi Gerindra, Sareh Wiyono, berjalan seusai menjalani pemeriksaan saksi untuk tersangka Panitera Pengadilan Negeri Utara, Rohadi di Gedung KPK, Jakarta, 22 Juli 2016. KPK memintai keterangan Sareh sebagai saksi terkait kasus suap terhadap penitera PN Jakarta Utara Rohadi. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Anggota Komisi III DPR RI dari fraksi Fraksi Gerindra, Sareh Wiyono, berjalan seusai menjalani pemeriksaan saksi untuk tersangka Panitera Pengadilan Negeri Utara, Rohadi di Gedung KPK, Jakarta, 22 Juli 2016. KPK memintai keterangan Sareh sebagai saksi terkait kasus suap terhadap penitera PN Jakarta Utara Rohadi. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi II DPR, Sareh Wiyono, membantah bahwa uang Rp 700 juta yang ditemukan di mobil panitera pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Utara Rohadi adalah miliknya. Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi menemukan uang itu di dalam mobil Rohadi saat menangkapnya pada 15 Juni 2016.

    "Bukan, bukan, bukan," kata Sareh setelah diperiksa penyidik di KPK, Jakarta, Kamis, 6 Oktober 2016. Anggota Gerindra ini diperiksa sebagai saksi untuk Rohadi terkait dengan dugaan tindak pencucian uang.

    Sareh diduga menyerahkan uang Rp 700 juta pada 10 Juni 2016 di Apartemen Sudirman Mansion lantai 8. Apartemen itu diduga milik Sareh. Namun lagi-lagi Sareh membantahnya. "Bukan, bukan, udah ya, pamit, ya," kata dia.

    Saat penyerahan uang Rp 700 juta itu, Sareh ditemani oleh pengacara bernama Petrus Selestinus. Petrus tidak mau berkomentar sebelum dimintai keterangan penyidik KPK. “Nanti kalau KPK sudah panggil, jangan mendahului,” kata dia di kantornya di Graha Gapensi, Jakarta Selatan, 15 Agustus lalu. Namun Petrus mengakui bahwa dia sudah kenal lama dengan Sareh.

    MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.