Selasa, 17 September 2019

Pengikut Dimas Kanjeng Yakin yang Ditangkap Polisi Jelmaannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana penjagaan ketat oleh ratusan petugas kepolisian saat proses rekontruksi di padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jawa Timur, 3 Oktober 2016. TEMPO/ISHOMUDDIN

    Suasana penjagaan ketat oleh ratusan petugas kepolisian saat proses rekontruksi di padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jawa Timur, 3 Oktober 2016. TEMPO/ISHOMUDDIN

    TEMPO.CO, Probolinggo – Hingga kini para pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi menganggap orang yang ditangkap polisi pada 22 September 2016 itu jelmaannya.

    Mereka percaya Dimas punya kesaktian menjelma menjadi lebih dari satu orang. “Beliau sudah biasa menjelma jadi lima atau enam dan ada di beberapa tempat dalam waktu yang sama,” kata Muslih, seorang pengikut Dimas, pada Kamis, 6 Oktober 2016.

    Jika yang ditangkap polisi bukan Dimas, lalu siapa dia? Muslih enggan menanggapinya. “Beliau guru saya dan saya tidak bisa menyebutkannya,” ujarnya. Menurut Muslih, malam sebelum ditangkap, Dimas mengenakan jubah putih. “Bukan memakai pakaian ungu seperti yang ada di tayangan televisi itu.”

    BACA: Cara Anggota Dimas Kanjeng Tawarkan Program Pesugihan

    Bahkan, menurut dia, pada malam sebelum ditangkap polisi, Dimas sudah tahu dan berpesan kepada para pengikutnya. “Besok ada keributan, yang sabar, ya,” tutur Muslih menirukan ucapan Dimas yang dikatakan berulang kali di hadapan para pengikutnya. 

    Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH Abdusshomad Buchori mengimbau para pengikut Dimas Kanjeng kembali ke daerah masing-masing dan tidak mudah percaya dengan cerita takhayul yang dibuat pengurus padepokan. “Yang ditangkap kemarin itu adalah Taat Pribadi, dan kami imbau agar kembali ke daerah masing-masing,” ucap Abdusshomad.

    Meski MUI menemukan indikasi menyimpang dari ajaran Dimas Kanjeng, MUI Jawa Timur maupun MUI Kabupaten Probolinggo menyerahkan sepenuhnya kepada MUI Pusat untuk mengeluarkan fatwa nasional. "MUI Pusat nanti yang akan mengeluarkan fatwa nasional,” kata Sekretaris MUI Kabupaten Probolinggo Yasin.

    BACA: Ismail Diduga Dibunuh Dimas Kanjeng Karena Buka Rahasia Ini

    Beberapa amalan yang dianggap menyimpang adalah amalan bacaan salawat fulus berisi harapan mendapatkan harta dan salat riyadul qubri yang mengandung unsur sirik. 

    Taat Pribadi, pemimpin Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Probolinggo, ditangkap Kepolisian Daerah Jawa Timur dan Kepolisian Resor Probolinggo karena menjadi dalang pembunuhan dua bekas anak buahnya yang dikhawatirkan membocorkan penipuan bermodus penggandaan uang yang dilakukan padepokan selama ini. Taat juga jadi tersangka penipuan bermodus penggandaan uang dengan korban ribuan dan kerugian miliaran rupiah yang tersebar di seluruh Indonesia. 

    ISHOMUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.