Film Porno Penyebab Utama Kekerasan Seksual pada Anak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga memberikan tanda tangan dukungan kampanye Keluarga Indonesia Menolak Narkoba, Pornografi, dan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak saat Car Free Day di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, 4 September 2016. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Sejumlah warga memberikan tanda tangan dukungan kampanye Keluarga Indonesia Menolak Narkoba, Pornografi, dan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak saat Car Free Day di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, 4 September 2016. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Divisi Humas Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengungkapkan sebanyak 51 persen kekerasan seksual yang terjadi pada anak disebabkan pornografi. Menurut dia, film porno adalah pendorong seseorang melakukan kekerasan seksual pada anak.

    "Film porno adalah langkah awal pelaku kekerasan pada anak," kata dia saat menyampaikan materi dalam Seminar Fenomena Kejahatan Seksual terhadap Anak di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 6 Oktober 2016.

    Boy mengatakan kekerasan pada anak umumnya dibagi dalam empat kategori, yaitu kekerasan fisik, psikis, penelantaran, dan kekerasan seksual. Dari empat jenis kekerasan tersebut, kekerasan seksual mendominasi kejahatan terhadap anak.

    BACA: Tragedi Yuyun, Perempuan Bukan Objek Kekerasan Seksual

    Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan kekerasan seksual pada anak mencapai 43 persen. "Kekerasan fisik hanya dua persen," kata Boy.

    Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Rini Handayani mengatakan kekerasan seksual pada anak mayoritas dilakukan oleh orang terdekat. Misal paman, kakek, ayah, atau kakak. "Terkecil adalah yang dilakukan seorang kakek kepada bayi berusia tiga bulan," katanya.

    Menurut dia, anak yang menjadi korban kekerasan seksual bisa disebabkan kurangnya kepedulian orang tua. Tak adanya komunikasi dalam keluarga juga bisa menjadi penyebab ketidaktahuan anak untuk memahami situasi. Sehingga, anak mudah menjadi korban.

    BACA: Kekerasan Seksual pada Anak Marak, Terobosan Kapolri Baru Ditunggu

    Kasus-kasus kekerasan pada anak terus terjadi setiap tahun. Angkanya pun terus meningkat. Untuk mencegah terulangnya kekerasan pada anak, kata Boy, perlu dilakukan sosialisasi dan edukasi secara menyeluruh.

    Selain sosialisasi dan edukasi, kerja sama dengan lembaga-lembaga terkait juga diperlukan. Di antaranya adalah Pusat Pelayanan Terpadu ( PPT), Balai Pemasyarakatan (BAPAS), serta Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

    MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.