Minggu, 22 September 2019

Dimas Kanjeng Taat Pribadi Punya Cabang di Samarinda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Majlis ta'lim Daarul Ukhuwah, Sultan Agung Ustadz Sumariono di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Majelis ini disebut sebagai cabang Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, 5 Oktober 2016. TEMPO/Firman

    Majlis ta'lim Daarul Ukhuwah, Sultan Agung Ustadz Sumariono di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Majelis ini disebut sebagai cabang Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, 5 Oktober 2016. TEMPO/Firman

    TEMPO.CO, Samarinda - Dimas Kanjeng Taat Pribadi memiliki cabang di Samarinda, Kalimantan Timur. Padepokannya berlokasi di Jalan Ir Sutami Gang Pusaka, RT 22, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda. Pada November 2015 Taat melantik Ustad Sumariyono sebagai Sultan Agung.

    Berdasarkan pantauan Tempo, padepokan di Samarinda itu dilengkapi pintu gerbang bertuliskan Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng (YPDK) Mejelis Ta'lim Daarul Ukhuwah. Pada lahan seluas 15 X 20 meter itu terdapat tiga bangunan, yakni rumah tempat tinggal, aula tempat pengajian dan dapur. Saat Tempo memasuki padepokan, Ustad Sumariyono, tidak berada di tempat.

    Salah seorang warga di sekitar padepokan, Suyamto, mengatakan di dalam padepokan digelar acara pengajian sekali dalam seminggu, yakni pada setiap Selasa malam. Santrinya berjumlah sekitar 200 orang.

    Tidak ada yang ganjil dalam pengamatan Suyamto. Namun warga mengeluhkan pengeras suara yang bising. Apalagi pengajian berlangsung hingga larut malam. “Kencangnya pengeras suara yang dikeluhkan oleh warga,” kata Suyamto, Rabu, 5 Oktober 2016.

    Ketua RT 22, Neneng, menjelaskan kegiatan di Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Mejelis Talim Daarul Ukhuwah itu sudah berlangsung sejak 2011. Dia juga membenarkan pelantikan Ustad Sumariyono sebagai Sultan Agung pada November 2015. Pelantikan dilakukan oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi. "Katanya, Sultan Agung itu perwakilan Taat Pribadi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara,” ujarnya.

    Hingga saat ini Neneng belum pernah menerima keluhan adanya warga yang merasa tertipu. Tidak ada warganya yang terlibat sebagai anggota. Sedangkan yang menjadi santri, umumnya berasal dari luar pemukimannya. Neneng juga mengaku tak tahu jika ada praktek penggandaan uang di padepokan itu.

    Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Kota Samarinda, Komisaris Besar M Setyobudi Dwiputro, mengatakan hari ini dia bersama anak buahnya telah mengunjungi padepokan itu. Berdasarkan laporan yang diterimanya dari warga, di padepokan itu sudah banyakyang  berubah. "Awalnya ada foto Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Tapi, tadi saya cek sudah tidak ada," ucapnya.

    Setyobudi juga mengatakan tidak bisa menjumpai Ustad Sumariyono karena tidak ada di padepokan. Namun, pihaknya telah merencanakan akan memanggil Ustad Sumariyono guna dimintai keterangan. Menurut keterangan warga, Kamis atau Jumat Ustad Sumariyono datang ke padepokan.

    FIRMAN HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe