Minggu, 22 September 2019

Biaya Pendidikan di SMKN 6 Kota Malang Bisa Dibayar Pakai Sampah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa mengambil sampah yang mereka kumpulkan untuk di tabung di bank sampah di SMKN 6 Malang, Jawa Timur, 30 September 2016. Tabungan sampah ini bisa di manfaatkan siswa untuk membayar iuran pendidikan sekolah

    Siswa mengambil sampah yang mereka kumpulkan untuk di tabung di bank sampah di SMKN 6 Malang, Jawa Timur, 30 September 2016. Tabungan sampah ini bisa di manfaatkan siswa untuk membayar iuran pendidikan sekolah

    TEMPO.CO, Malang - Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 6 Kota Malang menerima sampah kering untuk membayar biaya pendidikan. Upaya ini merupakan inovasi untuk menggerakkan Bank Sampah Sekolah yang digagas di lembaga pendidikan itu. Para siswa mengumpulkan aneka barang bekas seperti kertas koran, bekas botol minuman, plastik, dan aneka barang bekas lain.

    "Menumbuhkan jiwa wirausaha dan mencintai lingkungan," kata Kepala SMKN 6 Kota Malang, Dwi Lestari, Selasa, 4 Oktober 2016. Setiap hari, para siswa membawa aneka jenis sampah untuk dikumpulkan di Bank Sampah Sekolah. Sampah itu ditimbang dan dihitung harganya sesuai harga yang ditentukan.

    Semua data pengumpulan dicatat dalam buku, setiap siswa memiliki buku catatan sendiri. Buku catatan itu layaknya buku tabungan, tercatat secara terperinci total sampah dan dana yang dikumpulkan. Siswa tak perlu membayar biaya pendidikan secara tunai, setelah terkumpul sesuai biaya pendidikan setiap bulan.

    "Sudah berlangsung selama dua bulan." Jika tabungan sampah tak terpenuhi, harus dilunasi secara tunai. Siswa tinggal membayar selisih biaya yang harus dibayar. Para siswa mengaku senang, bisa meringankan beban orang tua membiayai pendidikan sekolah menengah atas.

    Mereka juga bersemangat mengumpulkan sampah di rumah sendiri. Selama ini mereka membuang semua sampah yang dihasilkan di rumahnya. Tanpa dipilah dan dipilih. "Saya terutama mengumpulkan botol minuman dan kertas," kata siswa kelas XI, Thalita Anggun Rifanti.

    Sedangkan Boby Taruna Hendra mengumpulkan sampah di sejumlah rumah tetangga. Seluruh sampah dikumpulkan untuk ditabung di sekolah. Sehingga selama dua bulan terakhir, dia membayar biaya pendidikan dari sampah yang dikumpulkan. "Orang tua tak lagi harus membayar SPP," katanya.

    Ide membayar biaya pendidikan dengan sampah muncul karena 40 persen dari 2.600 siswa mengajukan keringanan biaya pendidikan. Terutama menjelang kenaikan kelas. Untuk meringankan beban orang tua dan sekolah, akhirnya diputuskan untuk membayar sekolah dengan sampah.

    Sistem pembayaran pendidikan dengan sampah ini merupakan solusi pilihan. Siswa juga diperbolehkan untuk membayar uang tunai. Namun, sebagian besar siswa yang mengajukan keringanan mulai mengikuti sistem membayar sekolah dengan sampah. Sekolah bekerja sama dengan Bank Sampah Malang (BSM) untuk mengelola sampah itu.

    EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.