Minggu, 22 September 2019

Golkar Usung Ahok, Indra Jaya: Lebih dari 50 Persen Kader Menolak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto didampingi Sekjen Idrus Marham dan Ketua Harian Nurdin Halid saat penyerahan Surat Keputusan Dukungan kepada Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta kepada Ahok di Kantor DPD Partai Golkar DKI Jakarta, 24 Juni 2016. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto didampingi Sekjen Idrus Marham dan Ketua Harian Nurdin Halid saat penyerahan Surat Keputusan Dukungan kepada Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta kepada Ahok di Kantor DPD Partai Golkar DKI Jakarta, 24 Juni 2016. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.COJakarta - Politikus Partai Golkar, Indra Jaya Piliang, mengatakan hampir mayoritas pendukung partai berlambang beringin itu menolak hasil keputusan pengurus yang telah mengusung pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat untuk maju dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017. “Bisa jadi, pemilih Golkar lebih dari 50 persen akan beralih,” ujarnya saat dihubungi Tempo, Jumat, 30 September 2016.

     Baca juga:
    Skandal Papa Minta Saham, Nama Novanto Dipulihkan: Aneh Sekali!

    Pilkada DKI: Awas, Tiga Jebakan Ini Bisa Kini Ahok Kalah

    Bukan hanya pemilihnya, kader Golkar pun dinilai banyak yang tidak sependapat dengan keputusan pengurus. Indra mengatakan konsolidasi di partainya tidak berjalan maksimal saat penentuan pasangan calon yang akan maju dalam pilkada Jakarta. Ada sebagian kader yang tidak diajak berkonsolidasi memilih Ahok.

    Menurut Indra, rekan-rekan di partainya pun bergerak ke pasangan calon yang lain. Ia menilai peralihan dukungan itu disebabkan sebagian kader tidak melihat visi-misi Golkar ada pada Ahok. Golkar mendukung upaya pembangunan yang dilakukan di Jakarta. Tapi yang dimaksudkan Golkar ialah pembangunan yang lebih manusiawi.

    Indra menyoroti kebijakan Ahok di DKI Jakarta dalam urusan tata wilayah. “Baru kali ini gubernur dengan pola penggusuran masif dengan mengabaikan fakta-fakta hukum,” katanya. Ia menilai Ahok abai terhadap proses hukum atas sengketa lahan yang digusur.

    Indra menilai Partai Golkar sangat menghargai kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta yang saat itu dijabat Joko Widodo. Namun, semenjak Jokowi menjadi presiden, tidak ada faktor yang kuat untuk mendukung Ahok. “Mereka tahu siapa Ahok,” ucapnya.

    Suara pemilih Golkar dipastikan pecah. Indra memperkirakan banyak yang akan beralih ke pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno serta Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni. Seperti yang terjadi pada kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Boy Sadikin, yang memilih hengkang dan menjadi tim pemenangan Anies Baswedan.

    Bahkan, dalam waktu dekat, ada deklarasi dari para kader muda Golkar atas sikapnya yang membelot atas putusan pengurus partai yang menjagokan Ahok-Djarot. “Mungkin dalam sepekan akan bentuk deklarasi juga,” katanya.

    DANANG FIRMANTO

    Baca juga:
    Skandal Papa Minta Saham, Nama Novanto Dipulihkan: Aneh Sekali!
    Rayuan Bos Polisi ke Jessica Wongso: Kamu Tipe Saya Banget


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.