Begini Kondisi Terakhir Padepokan Dimas Kanjeng  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Padepokan Dimas Kanjeng di perbatasan Desa Wangkal dan Desa Gadingwetan, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Rabu, 28 September 2016. TEMPO/ISHOMUDDIN

    Padepokan Dimas Kanjeng di perbatasan Desa Wangkal dan Desa Gadingwetan, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Rabu, 28 September 2016. TEMPO/ISHOMUDDIN

    TEMPO.CO, Probolinggo - Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi berdiri sejak 2005 di lahan seluas 6 hektar di perbatasan Desa Wangkal dan Desa Gadingwetan, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari ibu kota Kabupaten Probolinggo, Kecamatan Kraksaan.

    Untuk masuk ke lokasi padepokan harus melewati jalan aspal perkampungan selebar 3-4 meter. Setiba di areal padepokan terdapat portal besi yang kini sudah dibongkar polisi. Di padepokan terdapat rumah keluarga Taat, asrama putra dan putri, masjid, gedung yayasan, dan pusat kebugaran (fitness center).

    Baca: Heboh Dimas Kanjeng, Jin Iprit, dan Gas Air Mata

    Karena dari tahun ke tahun jumlah pengikutnya yang tinggal di padepokan bertambah banyak, dibangunlah bangunan semi permanen. Bangunan semi permanen mirip kamp atau tenda pengungsi itu tersebar di sejumlah lokasi di areal padepokan. Jumlahnya mencapai puluhan dengan ukuran bervariasi.

    Bangunan semi permanen itu dibuat dengan tiang penyangga dari bambu, berdinding kayu triplek, dan beratap terpal plastik. Bangunan itu jadi kamar tempat menginap ribuan pengikut Taat. Setiap kamar atau tenda bisa menampung 30-50 orang. Mereka tidur dengan alas terpal plastik, tikar, maupun karpet yang mereka bawa sendiri. “Saya baru dua bulan tinggal di sini,” kata salah satu pengikut Taat, Bambang, Kamis, 29 September 2016.

    Baca: Marwah Daud Ibrahim Bandingkan Dimas Kanjeng dengan Habibie

    Bambang mengaku selama ini memberikan iuran atau sumbangan Rp 200 ribu per bulan melalui pengurus padepokan. “Untuk iuran listrik dan sumbangan masjid,” katanya. Ia membantah pernah menyetor uang untuk digandakan secara gaib. “Saya hanya bayar iuran dan itu ikhlas,” ucap pria asal Jember, Jawa Timur ini.

    Pengikut Taat yang masih bertahan di padepokan rata-rata dari luar Probolinggo, bahkan luar Jawa. “Selain Jawa Timur dan Jawa Barat, ada yang dari Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera,” ujar Kepala Kepolisian Resor Probolinggo Ajun Komisaris Besar Arman Asmara Syarifuddin.

    Baca Juga
    Ribut dengan Mario, Deddy Corbuzier: Rugi Rp 40 Triliun
    Inilah 5 Saksi Kunci yang Lihat Pesta Seks Gatot Brajamusti

    Selanjutnya: Berbeda dengan para pengikutnya...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.