Pilkada Jakarta, Pratikno Bantah Pernah Bertemu Prabowo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Sekretaris Negara Pratikno (kanan) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat (kiri) saat mengikuti Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi II DPR di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 18 Desember 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Sekretaris Negara Pratikno (kanan) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat (kiri) saat mengikuti Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi II DPR di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 18 Desember 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Sekretaris Negara Pratikno membantah telah bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subinato membahas soal pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta. Pratikno justru mengaku tidak ingat kapan terakhir kali berkomunikasi dengan Prabowo.

    "Sama sekali tidak menemui, apalagi berkunjung ke Pak Prabowo atau ke pengurus Gerindra yang lainnya," kata Pratikno di ruang media Istana Kepresidenen, Jakarta, Rabu, 28 September 2016.

    Pernyataan Pratikno ini membantah klaim dari salah satu petinggi Partai Gerindra. Pengurus teras partai itu menyebutkan Pratikno mendatangi kediaman Prabowo sebagai bentuk dukungan terhadap Anies Baswedan yang akan menjadi bakal calon Gubernur DKI Jakarta. Pratikno menegaskan tidak ada pejabat negara yang mendukung salah satu calon kepala daerah. "Kami netral saja," ujarnya.

    Di sisi lain, kabar yang menyebut adanya pertemuan antara Pratikno dan Prabowo sudah beredar lama. Pratikno berujar pernah membantah isu tersebut, namun sekarang muncul lagi. "Kami sudah bantah, tapi kok masih muncul lagi," kata dia.

    Pratikno tidak tahu ada motif apa di balik berkembangnya isu pertemuan itu. Pratikno mengatakan tidak akan menanggapi terlalu serius dengan membawanya ke jalur hukum. "Cukup klarifikasi saja," ucap mantan Rektor Universitas Gadjah Mada itu.

    Dalam pilkada Jakarta, kata dia, Presiden Joko Widodo menyampaikan agar pemilihan dapat berjalan demokratis. Menurut dia, Jakarta membutuhkan pemimpin yang kuat dan berkomitmen besar untuk membangun. Pasalnya, kata dia, persoalan di Jakarta itu kompleks.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga