2 Pengikut Dimas Kanjeng Dihabisi, Polisi Kejar Eksekutor  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dimas Kanjeng Taat Pribadi. youtube.com

    Dimas Kanjeng Taat Pribadi. youtube.com

    TEMPO.CO, Surabaya - Aparat Kepolisian Daerah Jawa Timur masih memburu tiga pelaku pembunuhan yang melibatkan pemimpin Pedepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo.

    "Lebih dari satu orang masih masuk DPO (daftar pencarian orang)," kata Kepala Subdirektorat III Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Timur Ajun Komisaris Besar Taufik H.Z., Rabu, 28 September 2016.

    Menurut Taufik, pelaku yang masih diburu merupakan bawahan Taat Pribadi. Pedepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, ucap dia, memiliki struktur organisasi yang terdiri atas guru besar, pelindung, sultan, koordinator, dan santri. "Yang masuk DPO ada yang menjabat sultan, koordinator, dan santri," ujar Taufik.

    Baca:
    Begini Cara Dimas Kanjeng Taat Pribadi 'Menggandakan' Uang 
    Terungkap, di Bungker Inilah Dimas Kanjeng Simpan Uangnya

    Taufik menuturkan dua korban pembunuhan, Abdul Ghani dan Ismail Hidayah, menjabat sultan di Pedepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. "Untuk kasus pembunuhan Ismail Hidayah sudah sampai pada penyerahan berkas tahap kedua di Kejaksaan Negeri Kabupaten Probolinggo," ucap Taufik.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Timur Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan kasus pembunuhan terhadap Ismail Hidayah melibatkan enam tersangka. "Termasuk pemimpin Pedepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi," ujar Argo.

    Polisi menangkap Taat di pedepokannya di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Kamis, 22 September 2016. Taat ditangkap karena diduga sebagai otak pembunuhan berencana terhadap Abdul Ghani dan Ismail Hidayah.

    Keduanya dibunuh dalam kurun waktu berbeda. Mereka ditengarai dibunuh lantaran akan membongkar kedok penggandaan uang oleh Taat. Untuk menghilangkan jejak, mayat korban dibuang secara terpisah. Jasad Abdul Ghani dibuang di Wonogiri, Jawa Tengah, sedangkan mayat Ismail Hidayah dibuang di Situbondo, Jawa Timur.

    Setelah ditelusuri penyidik Polda Jawa Timur dan Kepolisian Resor Probolinggo, kasus penemuan dua mayat itu ternyata ada hubungannya dengan Taat. Sebelum menangkap Taat, polisi telah menetapkan sepuluh tersangka. Penangkapan Taat melibatkan sekitar seribu aparat.

    NUR HADI

    Baca:
    Sandera Abu Sayyaf Bicara ke Media: Kami Ingin Pulang Segera
    Pesta Aa Gatot, Polisi: Sabu Dibagikan dari Mulut ke Mulut

     



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.