Polda: Pengikut Yakin, yang Ditangkap Bukan Dimas Kanjeng Asli

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dimas Kanjeng Taat Pribadi. youtube.com

    Dimas Kanjeng Taat Pribadi. youtube.com

    TEMPO.COProbolinggo - Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Anton Setiadji mengatakan penanganan kasus guru besar Kanjeng Dimas Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng bukan hanya soal penindakan hukum, tapi juga tentang masalah dampak sosial terkait dengan praktek penggandaan uang yang dilakukan Dimas Kanjeng.

    Baca: Begini Cara Dimas Kanjeng Taat Pribadi 'Menggandakan' Uang

    Menurut Anton, masih banyak korban dugaan penipuan yang melibatkan Taat Pribadi yang bertahan di Padepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. "Mereka kebanyakan berasal dari luar Jawa Timur, seperti Sumatera dan Sulawesi," katanya.

    "Masalahnya, mereka bertahan karena meyakini bahwa yang ditangkap polisi bukan Taat Pribadi yang asli," ujarnya. Mereka masih berharap uang yang mereka setorkan ke padepokan akan kembali dengan jumlah berlipat. Ada kemungkinan, kata Anton, kepolisian bakal merehabilitasi mereka ke Sumatera dan Sulawesi.

    Baca: Ini Salawat Fulus, Klaim Ajaran Dimas Kanjeng Gandakan Uang

    Pada 22 September 2016, jajaran Polda Jawa Timur menggerebek Padepokan Kanjeng Dimas dan menangkap pemiliknya, Taat Pribadi, yang diduga terlibat kasus pembunuhan berencana terhadap mantan santrinya. Taat diduga memerintahkan anak buahnya bernama Wahyu menghabisi Abdul Gani dan Ismail Hidayah.

    Polisi menduga kedua korban dibunuh lantaran berencana membongkar praktek penggandaan uang yang dilakukan sang guru. Polda Jawa Timur menetapkan satu tersangka, yakni Taat Pribadi, tapi penyidik sedang memburu tiga buron lain yang diduga kuat terlibat pembunuhan berencana itu. Polres Probolinggo menetapkan enam tersangka dari warga setempat dalam kasus ini.

    Baca: Pengikut Dimas Kanjeng Bukan Santri, Ini Penjelasan MUI

    Kesembilan tersangka—selain Taat Pribadi—ditengarai sebagai eksekutor ataupun orang yang turut serta membantu pembunuhan berencana tersebut. Namun, selain mengusut kasus pembunuhan, polisi menyelidiki dugaan penipuan dengan modus penggandaan uang yang dilakukan Taat. Polisi menerima dua laporan terkait dengan dugaan penipuan uang ini.

    ANTARA

    Baca juga
    Sindir Mario, Hotman Paris: Tukang Becak pun Sayang Anaknya
    Mario Mengaku Rugi Rp 7 M, Deddy Corbuzier: Hebat Banget!


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.