Siswa PAUD Dianiaya Anak TK Termasuk Kasus Restorasi Justice

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kekerasan terhadap anak. Avoiceformen.com

    Ilustrasi kekerasan terhadap anak. Avoiceformen.com

    TEMPO.CO, Kediri – Lembaga Perlindungan Anak meminta polisi tak mempidanakan siswa Taman Kanak kanak pelaku penganiayaan terhadap bocah PAUD di Kediri.
    Penerapan restorasi justice dianggap paling tepat menyelesaikan kasus ini.

    Kisah penganiayaan murid TK terhadap adik kelasnya yang masih duduk di bangku Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri pekan lalu mengundang perhatian masyarakat luas. Di tengah kegeraman warga kepada pelaku, aktivis perlindungan anak meminta polisi tak gegabah melakukan penyidikan.


    “Jangan sampai ada yang dihukum,” kata Ulul Hadi, juru bicara Lembaga Perlindungan Anak Kediri, Selasa 27 September 2016.


    Siswa PAUD berusia empat tahun di Kecamatan Wates menjadi korban penganiayaan brutal kakak kelasnya. Akibatnya ia terluka di seluruh bagian wajah dan kepala dengan cukup parah. Penganiayaan terjadi saat bocah PAUD pamit keluar kelas untuk buang air kecil di kamar mandi. Di saat bersamaan ada kakak kelasnya yang juga hendak ke kamar mandi yang sama. Diduga karena saling berebut, bocah malang itu dihajar habis-habisan di kamar mandi.


    Beruntung kejadian itu cepat diketahui salah satu gurunya yang mendapati korban sudah terluka parah dengan wajah berdarah-darah. Peristiwa itu terjadi pada Rabu, 21 September 2016 dan tak diketahui masyarakat luas.

    Hingga saat ini keluarga korban tak bersedia memberikan keterangan. Mereka justru menolak peristiwa ini dipublikasikan dengan alasan tak ingin menarik perhatian masyarakat. Berembus kabar pihak keluarga sudah berdamai dengan keluarga pelaku yang berjanji membiayai pengobatannya hingga tuntas. Demikian pula pihak sekolah bersikap sama.


    Hadi mengatakan usia pelaku dan korban yang masih sangat kanak-kanak tak harus menjadi pertimbangan utama polisi dalam menyelesaikan kasus ini. Mencari penyebab pemicu perilaku brutal dinilai jauh lebih penting dibanding menerapkan hukuman kepada mereka.

    Hadi menyarankan polisi menerapkan restorative justice dalam melakukan diversi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum. Sebab, konsep tersebut melibatkan berbagai pihak terkait dengan tindak pidana yang dilakukan oleh anak. “Jangan fokus pada tindakannya, tapi penyebabnya,” kata Hadi.

    Dia berharap polisi yang telah memulai melakukan penyidikan kasus ini juga memperhatikan kondisi psikologis anak, terutama saat melakukan pemanggilan atau pemeriksaan keterangan. Apalagi saat ini desakan masyarakat yang geram atas penganiayaan brutal itu juga cukup kuat.

    Sementara itu hingga kini polisi belum bersedia menjelaskan sejauh mana hasil penyelidikan kasus ini. Melalui pesan singkat, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kediri Ajun Komisaris Aldy Sulaeman mengatakan sudah dalam tahap penyidikan. Perwira polisi ini juga tidak menjelaskan siapa yang menjadi tersangka dalam kasus ini.

    Setali tiga uang, Kasubag Humas Polres Kediri Ajun Komisaris Bowo Wicaksono juga berdalih belum mendapat penjelasan detil dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak yang menanganinya. Namun dia memastikan kasus ini mendapat perhatian polisi untuk diselidiki. “Detailnya saya tanyakan dulu,” katanya.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.