Minggu, 22 September 2019

Banjir Garut: Luapan 3 Kali Besar Ini Ancam Jakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menghancurkan sisa pondasi di perkampungan yang sudah rata dengan tanah tersapu banjir bandang di pinggir Sungai Cimanuk, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat, 22 September 2016. TEMPO/Prima Mulia

    Petugas menghancurkan sisa pondasi di perkampungan yang sudah rata dengan tanah tersapu banjir bandang di pinggir Sungai Cimanuk, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat, 22 September 2016. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Pusat Sumber Daya Air Jawa Barat Nana Nasuha mengatakan, pihaknya mewaspadai tiga sungai besar selain Cimanuk, yang diwaspadai bisa meluap saat hujan turun dengan curah hujan tinggi. Tiga sungai itu adalah Citarum, Citanduy serta Ciliwung.

    "Sungai Ciliwung sendiri kita punya titik pantau di bendung Katulampa. Ketinggian muka air kita pantau setiap, dan teman dari Bogor akan melaporkan kepada kami kalau tingginya sudah melebihi 1 meter, itu harus waspada dan segera di informasikan pada Jakarta karena dari situ 7-8 jam air akan sampai Jakarta," kata Nana.

    BacaBanjir di Garut Merusak 11 Sekolah

    Banjir bandang melanda Garut akibat meluapnya Sungai Cimanuk, melebihi perkiraan."Sebagai gambaran Bendung Copong yang didisain dengan debit kala ulang 100 tahun itu ada pada angka 740 meter kubik per detik, ini yang terjadi sampai 1.1060 meter kubik per detik sehinga bendung terlampaui, sampai pagar pengaman pun terlampaui, dan itu betul-betul sangat ekstrim," kata dia di Bandung, Senin, 26 September 2016.

    Menurut Nana, besarnya debit aliran Sungai Cimanuk itu bergantung pada curah hujan karena daerah resapan di hulu sungai itu sudah rusak sehingga aliran air hujan langsung tumpah ke badan sungai. Dia menduga, curah hujan ekstrim yang berlangsung lama menjadi penyebab banjir bandang Garut akibat melupnya Sungai Cimanuk.

    BacaWali Kota Risma Kirim Bantuan ke Korban Banjir Garut 

    Nana beralasan, beberapa jam sebelum banjir itu 9 stasiun pemantau curah hujan di daerah hulu Sungai Cimanuk mencatat intensitas hujan ekstrim yang berlangsung hingga 4 jam. "Diantaranya salah satunya mencatat curah hujan sampai dengan 255 milimeter dan itu termasuk dalam kondisi ekstrim karena normalnya itu di bawah 25 milimeter per hari," kata dia.

    Nana menuturkan, selepas hujan sejak pukul 11 malam, 20 September 2016, itu debit air di Bendung Copong perlahan naik drastis dan perlahan kembali mendekati normal pada subuhnya, esoknya jelang pukul lima pagi. Debit yang dicatat di Bendung Copong melampuai 1.000 meter kubik. "Kalau kondisi normal pada umumnya di bawah 200 meter kubik per detik," kata dia.

    Limpasan air Sungai Cimanuk yang mengakibatkan sejumlah kerusakan di Garut itu langsung ditampung Waduk Jatigede, di Sumedang. Nana mengatakan, saat dulu tidak ada Waduk Jatigede, jika terjadi banjir semacam ini debit air di bendung rentang di Indramayu bisa melampaui 1.200 meter per detik. "Sekarang bendung rentang aman sebab tertahan waduk Jatigede," kata dia.

    SimakKhofifah: Korban Banjir Garut Direlokasi dan Dapat Rumah 

    Menurut Nana, kondisi Waduk Jatigede sendiri dilaporkan aman setelah menerima limpasan banjir Sungai Cimanuk itu. "Sampai saat ini kami tidak menerima laporan atas dasar pengaruh kemarin itu karena memang Jatigede itu kita tahu kapasitas tampungnya sampai 1 miliar meter kubik air," kata dia. Debit air yang dilepaskan Waduk Jatigede pun masih konstan 80-90 meter kubik per detik.

    Kondisi fisik Bendung Copong pun masih relatif masih aman. Kerusakan akibat banjir Sungai Cimanuk terjadi pada tanggul sungai di empat lokasi yang tersebar di sepanjang badan sungai itu. "Saat ini kami dengan BBWS Cimanuk-Cisanggarung itu fokus menangani tanggul-tanggul di 4 titik yang jebol agar bisa meningkatkan rasa aman masyarakat," kata Nana.

    Nana mengatakan, saat ini kondis debit Sungai Cimanuk yang terpantau di Bendung Copong relatif normal. "Alhamdulillah sekarang sudah konstan pada kondisi normalnya, angka tepatnya belum tahu pasti, tapi kalau dilihat dari air yang melimpas di Bendung Copong itu dalam kondisi normal," kata dia.

    BacaBanjir Garut, 20 Orang Masih Hilang Pencarian Diperluas

    Kendati demikian, Nana mengatakan, ancaman banjir Sungai Cimanuk tetap diwaspadai karena bisa sewaktu-waktu naik karena buruknya kondisi daerah tangkapan di hulu sungai itu. "Kami dan tim BBWS Cimanuk di lapangan terus memantau, bisi naik lagi," kata Nana.

    Di situs Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisangarung, Dirjen Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Imam Santoso menjelaskan, Bendung Copong yang berada di hulu Sungai Cimanuk itu dirancang dengan banjir ulangan 100 tahun atau Q100, untuk aliran air sebesar 740 meter kubik per detik.

    Sementara saat banjir Garut 20 September 2016, aliran air Sungai Cimanuk mencapai 1.140 meter kubik per detik akibat intensitas hujan tinggi mencapai 255 milimeter sejak sore hingga tengah malam. Imam membandingkan dengan banjir Jakarta tahun 2013 yang saat ini intesitas hujannya 180 milimeter, sementara hujan normal itu hanya 0-25 milimeter, sedang 25-50 milimeter, dan 50-100 masuk kategori tinggi.

    BBWS Cimanuk-Cisanggarung mencatat kerusakan infrastruktur akibat banjir Sungai Cimanuk di Garut itu mengakibatkan tanggul rusak sepanjang 250 meter di Desa Paminggir Garut.

    AHMAD FIKRI

    Populer:
    Mengejutkan, Gadis Ini Berkedip Setelah 300 Tahun Kematiannya
    Kesaksian Detik-detik Ibu & Anak Jatuh dari JPO Pasar Minggu
    Anissa Pohan Lengket, Semobil dengan Agus Yudhoyono, Lalu...
    Biar Kebal Tudingan Miring soal Janda, Ini Aksi Dian Pelangi
    Hannah Al Rashid Cerita Cewek Seksi & Buka Baju di Warkop
    Artis Raisa Sedang Sakit Hati Banget? Ini yang Dilakukan...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.