Wali Kota Semarang: 2 Poin Utama Pemikat Investasi  

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Semua elemen bekerja sama untuk membangun Kota Semarang menjadi lebih baik dengan visi Semarang Hebat.

    Semua elemen bekerja sama untuk membangun Kota Semarang menjadi lebih baik dengan visi Semarang Hebat.

    INFO NASIONAL - Kota Semarang berhasil merengkuh penghargaan sebagai Kota Terbaik dengan indeks 85.90 dalam ajang Indonesia’s Attractiveness Award 2016. Hasil riset dari ajang yang mengukur seberapa memikat sebuah daerah untuk menjadi tujuan investasi ini menunjukkan bahwa Kota Semarang memiliki kredibilitas tinggi. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengungkapkan, keberhasilan Kota Semarang ini tak lepas dari semangat kebersamaan yang terbangun antara masyarakat, pemerintah, dan stakeholder.

    “Kerja sama semua elemen untuk membangun Kota Semarang menjadi lebih baik dengan visi Semarang Hebat,” ujar Hendrar Prihadi di sela malam penghargaan Indonesia’s Attractiveness Award 2016 di Hotel Mulia, Jakarta pada 22 September 2016. Adapun Indonesia’s Attractiveness Award 2016 merupakan kerja sama Frontier Consulting Group dan Tempo Media Group untuk mengukur Indonesia’s Attractiveness Index.

    Merinci lebih dalam, wali kota yang akrab disapa Hendi ini mengakui, fokus utama untuk memikat para investor ada dua poin. “Fokus kami adalah pada dua poin, yaitu keamanan dan kenyamanan. Kondisi yang aman dan nyaman akan menarik minat berinvestasi di Kota Semarang,” ucapnya. Semua elemen, menurut dia, berperan, mulai warga Kota Semarang yang selalu memelihara dan menjaga iklim kondusif, hingga kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro-investasi.

    Komitmen Kota Semarang melakukan berbagai kebijakan untuk menarik para investor menanamkan modalnya di Kota Semarang terus dikembangkan agar memacu pertumbuhan ekonomi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Komitmen ini diimplementasikan dalam beberapa langkah, seperti peningkatan infrastruktur pendukung investasi, keterbukaan informasi dan birokrasi, peningkatan pelayanan perizinan melalui penyelenggaraan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP), dan kepastian hukum melalui Perda Nomor 9 Tahun 2014 tentang Penanaman Modal.

    Peningkatan infrastruktur sebagai pendukung roda ekonomi terus dijalankan. Pembangunan fly over Kalibanteng, underpass Jatingaleh, jalan radial, pengembangan bandara, transportasi darat, juga pelabuhan internasional dengan 6 dermaga 100.000 DWT terminal peti kemas yang mampu melayani 360 ribu unit per tahun yang mendukung sektor perdagangan dan jasa. Dalam membangun infrastruktur ini, Hendi mengaku menerapkan pendekatan humanis. “Seperti dalam pembebasan lahan, kami tidak represif dan mendekati masyarakat secara humanis,” tuturnya.

    Satu langkah maju dalam pelayanan perizinan Kota Semarang dilakukan melalui penataan perizinan dan non-perizinan. Salah satu bentuk konkretnya seperti pendelegasian wewenang penandatanganan perizinan dan non-perizinan, serta perizinan penanaman modal kepada Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT).

    Berbagai upaya yang dilakukan Kota Semarang pun membuahkan hasil. Hal ini tecermin pada produk domestik regional bruto (PDRB) sebagai salah satu tolok ukur untuk melihat kondisi perekonomian wilayah. PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Kota Semarang dalam kurun waktu 5 tahun mengalami peningkatan dari Rp 91.034.098,92 pada 2011 menjadi Rp 134.268.633,62 pada 2015. Peningkatan PDRB atas dasar harga konstan juga meningkat dari Rp 86.142.966,70 pada 2010 menjadi Rp 109.141.554,19 pada 2015. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.