Minggu, 22 September 2019

Pilkada Banten, Pertarungan Pro-Dinasti Melawan Anti-Dinasti  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan (kanan) bergandeng  tangan dengan pasangan bakal calon Gubernur-Wakil Gubernur Banten Wahidin Halim (tengah) dan Andika Hazrumy dalam deklarasi pencalonan pasangan tersebut di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, 8 Agustus 2016. Partai Demokrat resmi mengusung Wahidin Halim dan Andika Hazrumy sebagai pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Banten pada pilkada serentak 2017. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan (kanan) bergandeng tangan dengan pasangan bakal calon Gubernur-Wakil Gubernur Banten Wahidin Halim (tengah) dan Andika Hazrumy dalam deklarasi pencalonan pasangan tersebut di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, 8 Agustus 2016. Partai Demokrat resmi mengusung Wahidin Halim dan Andika Hazrumy sebagai pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Banten pada pilkada serentak 2017. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Tangerang - Pengamat politik Ray Rangkuti mengatakan, ada gairah baru dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Banten periode 2017-2021 yang kini memasuki tahap pendaftaran calon. Dari dua kandidat yang diprediksi berlaga, menurut Ray, hanya dua pasangan, yaitu Wahidin Halim-Andika Hazrumy dan Rano Karno-Embay Mulya Syarief. "Jika hanya dua pasangan ini, pilkada Banten bisa diartikan pertarungan pro-dinasti melawan anti-dinasti," kata Ray, Kamis, 22 September 2016.

    Ungkapan pro-dinasti dan anti-dinasti, kata Ray, dilihat dari latar belakang kedua pasangan itu. Wahidin Halim, yang menggandeng anak sulung mantan Gubernur Banten Atut Chosiyah, seolah melenggangkan kembali trah dinasti Banten. "Konsolidasi Wahidin dengan keluarga Atut dianggap membangkitkan kembali dinasti Banten," kata Ray.

    Meski Wahidin menyangkal hal tersebut, menurut Ray, butuh waktu yang panjang untuk membuktikan bahwa Andika bisa lepas dari pengaruh politik dinasti keluarganya. "Butuh waktu dua tahunan lebih, sedangkan waktu pilkada sangat singkat," katanya.

    Sedangkan keputusan Rano Karno menggandeng Embay yang bukan wakil dari keluarga Atut, menurut Ray, menunjukkan bahwa calon inkumben benar-benar tidak mau dibayangi politik keluarga Ratu Atut. "Dan ini menjadi harapan baru bagi pemilih pemula dan pemilih kalangan menengah yang memimpikan pemimpin baru, non-dinasti," katanya.

    Semangat anti-dinasti dan anti-korupsi, menurut Ray, kini sedang didengungkan oleh masyarakat Banten maupun masyarakat di Indonesia dalam pemilihan kepala daerah serentak 2017.

    Hari ini pasangan Wahidin Halim-Andhika Hazrumy berencana mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum Banten sebagai pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Banten. Sedangkan Rano-Embay dikabarkan baru mendaftar pada Jumat, 23 September 2016.

    JONIANSYAH HARDJONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.