Minggu, 22 September 2019

Gempa Pacitan, Penyebabnya Subdiksi Lempeng Indo Australia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengukuran amplitudo maksimal (amak) pada alat seismograf / ilustrasi kekuatan gempa. ANTARA FOTO

    Pengukuran amplitudo maksimal (amak) pada alat seismograf / ilustrasi kekuatan gempa. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Pacitan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, Jawa Timur belum menemukan korban maupun dampak kerugian material dari gempa bumi yang terjadi Kamis dini hari tadi. Hingga kini, koordinasi dengan petugas dan relawan tanggap bencana di tingkat kcamatan masih berlangsung.

    ‘’Kami terus melakukan pemantauan di wilayah. Alhamdulillah sampai saat ini belum ada laporan dampak gempa,’’ kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD setempat Pujono saat dihubungi Tempo, Kamis, 22 September 2016.

    Menurut dia, gempa bumi itu terjadi pada pukul 01.07 WIB. Berdasarkan analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika lindu berkekuatan 5,1 Skala Ritcher (SR) itu berpusat pada koordinat 9,07 Lintang Selatan dan 111,50 Bujur Timur. Tepatnya di Samudera Hindia pada jarak 108 kilometer arah tenggara Pacitan dengan kedalaman 10 kilometer.

    Gempa itu, ia melanjutkan, akibat subdiksi atau penunjaman antara lempeng Indo Australia ke Eurasia. Secara seismik, zona Jawa memang zona yang sangat aktif dan sering terjadi aktivitas gempa bumi dangkal seperti ini. ‘’Kami meminta warga tetap waspada karena tetap berpotensi terjadi gempa susulan,’’ ujar Pujono.

    Lindu yang terjadi dini hari tadi, ia menuturkan, tidak berpotensi tsunami. Salah satu indikarnya adalah tidak terdengarnya sirine dari Tsunami Early Warning System (TEWS) yang ada di sejumlah titik. Alat pendeteksi itu berdiri di wilayah Kecamatan Pacitan, Kecamatan Ngadirojo, dan Kecamatan Pringkuku.

    Gempa bumi yang terjadi dinihari tadi menyebabkan warga panik. Mereka yang sebagian besar tengah lelap tidur tiba-tiba terbangun ketika merasakan guncangan dengan lama sekitar dua detik. ‘’Saya langsung berdiri dan hendak berlari ke luar rumah. Tapi, tidak lama kemudian sudah kembali normal,’’ kata Ahsan, salah seorang warga Kelurahan Ploso.

    Gempa bumi, menurut dia, sering terjadi di Pacitan. Karena itu, dia dan keluarga senantiasa waspada terhadap fenomena alam ini. Apabila guncangan mulai terjadi mereka bergegas berlari untuk keluar rumah. Jika rumah roboh karena goncangan, maka mereka bisa tetap selamat.

    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.