Kepala Biro Pers Setneg Bantah Bocorkan Surat Pembaca Tempo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menandatangani kontrak politik yang berisi bahwa keduanya sah diusung PDIP dalam pilkada DKI 2017, di Jakarta, 20 September 2016. TEMPO/Friski Riana

    Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menandatangani kontrak politik yang berisi bahwa keduanya sah diusung PDIP dalam pilkada DKI 2017, di Jakarta, 20 September 2016. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.COJakarta - Kepala Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin membenarkan telah mengirim surat pembaca kepada majalah Tempo. Surat pembaca itu berisi hak jawab terhadap laporan utama Tempo edisi 19-25 September 2016 yang berjudul “Goyah karena Hasil Survei”.

    Menurut dia, surat pembaca itu dikirim langsung ke Pemimpin Redaksi Tempo Arif Zulkifli pada Selasa petang, 20 September 2016. Pengiriman surat pembaca itu dilakukan setelah keduanya berbincang melalui aplikasi WhatsApp. "Itu atas permintaannya," ucap Bey saat ditemui Tempo di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 21 September 2016.

    Sekitar pukul 23.00 WIB pada hari yang sama, Bey mengaku mendapat informasi ihwal bocornya surat pembaca itu. Ia mengatakan tak tahu-menahu bahwa surat itu bocor di banyak grup WhatsApp. "Saya tidak tahu siapa yang membocorkan. Bukan tipe saya membocorkan hal seperti itu karena saya berupaya bersikap hati-hati," katanya. 

    Walau begitu, Bey menilai, surat pembaca tersebut tidak termasuk kategori surat negara. Karena itu, menurut dia, tidak terlalu menjadi persoalan bila terjadi kebocoran. Secara resmi, Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden telah mengirimkan surat pembaca kepada redaksi Tempo. "Saya kirim via e-mail dan kurir juga," tuturnya. 

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.