Minggu, 22 September 2019

Pilkada DKI: 4 Pertimbangan PDIP Pilih Ahok-Djarot

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasangan calon Gubernur DKI dan calon Wakil Gubernur DKI pada Pilgub 2017, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat menunjukkan kertas kontrak politik saat menghadiri pengumuman cagub dan cawagub Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Kantor DPP PDIP, Diponegoro, Jakarta, Selasa (20/9) malam. PDI Perjuangan resmi mengusung duet petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat untuk maju dalam pemilihan kepala daerah 2017. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    Pasangan calon Gubernur DKI dan calon Wakil Gubernur DKI pada Pilgub 2017, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat menunjukkan kertas kontrak politik saat menghadiri pengumuman cagub dan cawagub Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Kantor DPP PDIP, Diponegoro, Jakarta, Selasa (20/9) malam. PDI Perjuangan resmi mengusung duet petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat untuk maju dalam pemilihan kepala daerah 2017. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    TEMPO.CO, Jakarta - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan telah resmi mengusung pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat sebagai calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengungkapkan berbagai pertimbangan mengenai keputusan tersebut.

    "DPP PDIP perlu memberikan penjelasan secara khusus terhadap penetapan pasangan calon di DKI. Hal ini mengingat bahwa PDI Perjuangan menempatkan kekuasan politik sebagai sarana pengabdian bangsa dan negara," kata Hasto di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta Pusat, Selasa, 20 September 2016.

    Hasto mengungkapkan alasan yang pertama Basuki merupakan gubernur inkumben yang bertugas meneruskan tugas pasangan Jokowi-Ahok. Keduanya merupakan pasangan yang diusung partai dalam pemilihan kepala daerah DKI 2012.

    Kedua, ideologi PDI Perjuangan adalah Pancasila yang lahir pada 1 Juni dan Tri Sakti. Hasto menyebut kedua ideologi tersebut menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan, sehingga merupakan hal yang final bagi partai untuk memegang teguh dan berkomitmen meneguhkan nilai pluralisme. "Serta selalu berupaya konsisten dalam menjalankan program-program kebijakan Jokowi-Ahok pada waktu yang lalu," kata dia.

    Pertimbangan ketiga, Hasto mengatakan, partainya berpandangan bahwa Ahok-Djarot berkomitmen teguh dalam melaksanakan ideologi PDI Perjuangan. Juga mampu bersinergi dengan pemerintah pusat dan menjalankan nawacita dalam praktek pemerintahan. Pertimbangan keempat, kata Hasto, PDIP menilai Ahok-Djarot mampu meneruskan dan mengimplementasikan visi misi Jakarta Baru yang sebelumnya diusung Jokowi-Ahok.

    Sebabnya, menurut Hasto, hal itu terbukti dari hasil survei selama satu tahun terakhir yang konsisten menunjukkan tingkat kepuasan publik DKI yang tinggi terhadap kinerja keduanya. "Atas dasar tersebut PDI Perjuangan berkomitmen menyatu dengan kekuatan rakyat untuk menjadi pengusung pertama guna memenangkan Bapak Basuki Tjahaja Purnama dan Bapak Saiful Hidayat," ujar Hasto.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.