Wiranto Pastikan WNI Sandera Abu Sayyaf Tersisa 5 Orang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto usai pertemuan terkait antisipasi kerawanan Pilkada, di Jalan Denpasar, Kuningan, Jakarta, 30 Agustus 2016. TEMPO/Yohanes Paskalis

    Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto usai pertemuan terkait antisipasi kerawanan Pilkada, di Jalan Denpasar, Kuningan, Jakarta, 30 Agustus 2016. TEMPO/Yohanes Paskalis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto membenarkan adanya satu warga negara Indonesia (WNI) lain yang tengah diupayakan bebas dari Abu Sayyaf. Tiga WNI awak kapal pukat ikan berbendera Malaysia, sudah lebih dulu dibebaskan, pada Sabtu, 17 September 2016.

    "Kita tunggu, satu lagi ini dalam proses. Kita ingin tahu secara jelas," ujar Wiranto saat dicegat di depan kantornya, Jakarta, Selasa, 20 September 2016.

    Baca: Tiga Sandera Abu Sayyaf Asal NTT Dibebaskan

    Menurut Wiranto, pembebasan WNI yang ditawan Abu Sayyaf tidak instan, dan membutuhkan waktu. Pemerintah, menurut Wiranto, perlu berhati-hati bertindak, agar tidak mengancam nyawa para sandera. "Karena kita menghadapi para perampok yang orientasinya duit. Pemerintah dari awal berusaha semaksimal mungkin untuk membebaskan mereka, dan sekarang satu demi satu," kata Wiranto.

    Wiranto menolak merincikan cara membebaskan tiga WNI yang kini ditangani Kedutaan Besar RI Manila. Wiranto tak mengkonfirmasi maupun menampik adanya uang tebusan untuk menyelamatkan tiga nelayan asal Nusa Tenggara Timur itu. Namun, Wiranto memastikan pemerintah Indonesia tak akan berkompromi dengan kelompok perompak itu, jika menyangkut finansial.

    "Sekarang kita tidak perlu fokus ke sana. Ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan secara meluas, intinya mereka bebas," tutur Wiranto.

    Pihak KBRI Manila telah menyambut ketiga WNI pada Senin, 19 September 2016, di Zamboanga, Filipina Selatan. Para WNI ini akan dipulangkan setelah menjalani sejumlah prosedur medis, terutama untuk menghilangkan trauma setelah disandera dalam hitungan bulan. "Ketiganya menjalani post trauma healing, yang waktunya sangat tergantung pada kondisi psikologis masing-masing," ujar Sekretaris Pertama Fungsi Sosial-Budaya Kedutaan Besar RI Manila Basriana Basrul, lewat keterangan tertulis KBRI Manila, Selasa, 20 September 2016.

    Dalam keterangan itu, disebutkan bahwa pemerintah RI, kini mengantongi tugas menyelamatkankan sisa lima WNI, yang masih disandera di Filipina Selatan. Upaya penyelamatan terus dilakukan dengan dukungan pemerintah Filipina.

    Keluarga ketiga WNI yang bebas pun sudah dikabari mengenai hal ini. "Kementerian Luar Negeri RI sudah menyampaikan berita gembira ini pada keluarga mereka di Kabupaten Bulukumba, NTT."

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.