Beda Kondangan di Jakarta dan Belitung Timur Versi Ahok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok meninjau Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanjung Elang Berseri di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, 20 September 2016. TEMPO/Larissa

    Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok meninjau Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanjung Elang Berseri di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, 20 September 2016. TEMPO/Larissa

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok membandingkan masa jabatannya saat menjadi Bupati Belitung Timur dengan jabatannya saat ini. Ahok mengaku ada hal yang berbeda saat ia melenggang ke Jakarta. Hal tersebut ia rasakan ketika menghadiri acara atau hajatan yang diundang oleh warga.

    "Kalau kawinan aku datang di Belitung, paling demen aku makan gratis. Di sini sekarang susah, aku mau makan dikerumuni untuk foto. Saya lagi menyong-menyong mulutnya di foto juga," kata Ahok disambut tawa oleh warga Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Selasa, 20 September 2016.

    Dalam menghadapi situasi itu, Ahok mengaku terpaksa menahan lapar saat menghadiri hajatan di Jakarta. Hal itu ia lakukan untuk menghindari suasana kacau saat ia sedang makan lalu tamu undangan meminta untuk berfoto. "Mereka bilang, 'sebentar, Pak', sebentar sih sebentar, tapi gue kapan makannya," kata Ahok terkekeh.

    Namun, menghadiri hajatan di Jakarta dinilai Ahok lebih murah ketimbang di Belitung Timur. Pasalnya, setiap kali berfoto di Belitung Timur, banyak tamu yang meminta Ahok untuk mencetak sekaligus mengirim fotonya kepada orang yang bersangkutan. "Mereka minta, 'Pak, sudah dicuci belum filmnya? Kami mesti ongkos cetakin dan kirim, waduh ongkosnya gede'," tutur Ahok.

    Ahok menghitung, setiap foto yang dicetak dengan ukuran 12 R ditambah bingkai bisa mencapai Rp 20 ribu. Belum lagi, kalau setiap kali foto ada sembilan orang, otomatis setiap kali cetak harus ada sembilan salinan. "Kadang-kadang lupa, ini orang ada di mana ya, jadinya cuma dipajang di toko cetak," kata Ahok.

    Berbeda dengan di Jakarta, setiap kali tamu meminta foto, setiap orang langsung mengeluarkan telepon pintar yang dilengkapi dengan kamera. Dengan begitu, dirinya tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya cetak foto.

    Setiap kali mengunjungi masyarakat, Ahok emang kerap melayani permintaan untuk berfoto bersama. Massa yang hadir kerap harus saling dorong dan saling berebut untuk berfoto bersama. Kebanyakan, yang meminta untuk berfoto bersama adalah kaum hawa.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.