Warga Flores Sandera Abu Sayyaf Bebas, Pemda Kontak Keluarga  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Norwegia, Kjartan Sekkingstad bersama dengan ketiga ABK Indonesa yang telah dibebaskan dari kelompok militan Abu Sayyaf Islam al-Qaeda, di Jolo, Sulu di Filipina, 18 September 2016. REUTERS/Nickie Butlangan

    Warga Norwegia, Kjartan Sekkingstad bersama dengan ketiga ABK Indonesa yang telah dibebaskan dari kelompok militan Abu Sayyaf Islam al-Qaeda, di Jolo, Sulu di Filipina, 18 September 2016. REUTERS/Nickie Butlangan

    TEMPO.COKupang - Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya mengaku gembira dengan kabar pembebasan tiga warga asal Flores Timur yang disandera kelompok Abu Sayyaf sejak Juli 2016.

    "Ini merupakan kabar gembira, dan kami berterima kasih kepada pemerintah pusat yang telah berupaya membebaskan warga NTT," kata Frans, Selasa, 20 September 2016.

    Tiga warga Flores Timur ini adalah Teodorus Kopong, Emauel, dan Lorens Koten. Mereka merupakan warga Desa Laton Liwo, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur.

    Frans mengatakan dia telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah Flores Timur untuk segera menghubungi keluarga ketiganya bahwa mereka telah dibebaskan. "Saya sudah minta ke pemda di sana (Flores Timur) untuk menyampaikan kabar baik ini ke keluarga mereka," ujarnya.

    Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memastikan tiga warga negara Indonesia yang sempat diculik di perairan Lahad Datu, Sabah, Malaysia, telah dibebaskan. Ketiganya merupakan WNI asal Nusa Tenggara Timur yang diculik dan disandera kelompok Abu Sayyaf pada Juli 2016.

    Ryamizard, yang baru kembali ke Indonesia setelah bernegosiasi di Filipina, mengatakan, selain tiga WNI itu, masih ada satu WNI lagi yang sedang dirundingkan pembebasannya. “Mudah-mudahan malam ini bisa lepas satu, berarti empat. Kalau yang tiga sudah pasti, yang satu ini kan belum pasti,” tutur Ryamizard.

    YOHANES SEO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.