Seorang Pendaki Meninggal di Gunung Semeru

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pendaki mendaki Gunung Semeru dengan latar Gunung Bromo di Gunung Semeru, Malang, Jawa Timur, Minggu (31/7). Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di pulau Jawa dan menjadi salah satu destinasi favorit bagi para pendaki gunung baik dalam negeri maupun mancanegara. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Sejumlah pendaki mendaki Gunung Semeru dengan latar Gunung Bromo di Gunung Semeru, Malang, Jawa Timur, Minggu (31/7). Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di pulau Jawa dan menjadi salah satu destinasi favorit bagi para pendaki gunung baik dalam negeri maupun mancanegara. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Malang — Seorang pendaki bernama Zimam Arofik meninggal dunia di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada Selasa, 13 September 2016, pukul 21.30 WIB.

    Zimam beralamat di Jalan WR Supratman 123, RT 005/ RW 012, Kelurahan Panjang Wetan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

    Kepala Resor Pengelolaan Taman Nasional (RPTN), Ranupani Agung Siswoyo, mengatakan Zimam meninggal di Pos Kalimati karena menderita sakit. Zimam tidak sempat mendaki. Sedangkan teman-temannya sempat naik ke puncak. “Dia sudah merasa sakit sebelum tiba di Kalimati dan sampai di Kalimati sakitnya makin parah,” Agung, Rabu malam, 14 September 2016.

    Kalimati merupakan pos kedelapan dari sepuluh rute pendakian Semeru dan merupakan batas terakhir yang diizinkan pengelola kawasan TNBTS. Lokasinya di ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berjarak 14,9 kilometer dari Pos Ranupani dengan waktu tempuh kedua pos sekitar enam jam.

    Menurut Agung, Zimam hendak mendaki bersama enam temannya dari Pekalongan. Mereka mendaftar dan membayar tiket masuk di kantor RTPN Ranupani pada Sabtu, 10 September 2016. Mereka mendaftar mendaki sampai 14 September.

    ABDI PURMONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.