Kemenlu: Abu Sayyaf Sudah 4 Kali Tetapkan Tenggat Tebusan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota keluarga korban yang disandera kelompok Abu Sayyaf saat melakukan pertemuan dengan Dirjen PWNI-BHI Kemenlu Lalu Muhammad Iqbal di Gedung PWNI-BHI, Jakarta, 1 Agustus 2016. Lalu Muhammad Iqbal mengatakan tujuh WNI yang disandera dalam kondisi baik. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Anggota keluarga korban yang disandera kelompok Abu Sayyaf saat melakukan pertemuan dengan Dirjen PWNI-BHI Kemenlu Lalu Muhammad Iqbal di Gedung PWNI-BHI, Jakarta, 1 Agustus 2016. Lalu Muhammad Iqbal mengatakan tujuh WNI yang disandera dalam kondisi baik. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Perlindungan Warga Negara Indonesia Muhammad Iqbal mengatakan penetapan tenggat waktu baru pembayaran tebusan yang disebut kelompok Abu Sayyaf tak akan mengusik upaya penyelamatan sandera warga negara Indonesia.

    Iqbal juga tak menampik bahwa ada tanggal baru yang dijadikan batas akhir penebusan, oleh kelompok radikal di Filipina selatan itu.

    Baca:
    Abu Sayyaf Beri Deadline Baru, Ini Tanggapan Kemlu
    Keluarga Sandera Abu Sayyaf Sambangi Kementerian Luar Negeri
    Pemerintah Terus Beri Pendampingan kepada Sandera dan Keluarga

    "Kalau ancaman selalu datang. Ini sudah empat kali," kata Iqbal saat ditemui di kompleks Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, Selasa, 13 September 2016.

    Menurut Iqbal, keberadaan sembilan WNI yang masih disandera telah terpantau, namun upaya pembebasan masih dalam proses.

    Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir mengungkapkan hal senada. Dia menyebut ancaman terkait batas waktu hanyalah aksi berulang yang dilakukan Abu Sayyaf. "Intinya kami (Indonesia dan Filipina) komunikasi terus. Selama itu bisa dilakukan, artinya boleh saja ada batas waktu," tutur Fachir.

    Fachir mengaku optimistis sisa sembilan sandera WNI bisa diselamatkan. Jalur diplomasi pun masih jadi opsi utama, karena pergerakan militer Indonesia untuk menyelamatkan WNI masih terbatas.

    Pemerintah masih mengantongi kewajiban menyelamatkan sembilan WNI dari tangan Abu Sayyaf. Sandera yang awalnya berjumlah 11 dari tiga kasus berbeda, berkurang jumlahnya, usai lolosnya dua awak kapal Charles 001 yang disandera pada Juni lalu.

    Mereka yang masih ditawan, adalah lima sisa awak kapal Charles, dan empat WNI dari dua kasus penculikan oleh Abu Sayyaf di perairan Sabah, Malaysia.

    Ancaman tenggat waktu memang sudah muncul beberapa kali. Terakhir kali, kelompok Abu Sayyaf kabarnya sempat memberi waktu hingga pertengahan Agustus 2016, namun tak ada perkembangan. Dua sandera justru lolos pada 17 Agustus 2016, di tengah gempuran operasi militer Filipina ke basis kelompok pemberontak tersebut.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.