Badan Restorasi Gambut Tolak Alasan PT RAPP Bangun Kanal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead memberikan keterangan pers saat keluar dari Gedung KPK, Jakarta, 21 April 2016. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead memberikan keterangan pers saat keluar dari Gedung KPK, Jakarta, 21 April 2016. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.COJakarta - Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG) Myrna A. Safitri mengatakan pihaknya tidak menerima alasan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) membuka lahan dan membangun kanal di area gambut di Pulau Padang, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. 

    "Kami jelas, itu namanya kanalisasi. Itu enggak bisa, kami enggak terima," kata Myrna di lobi gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Jumat, 9 September 2016. 

    Dalam rapat antara Kementerian Lingkungan Hidup, BRG, dan PT RAPP pagi tadi, Presiden Direktur PT RAPP Tony Wenas mengatakan pihaknya memang membangun kanal sebagai kantong air guna mencegah kebakaran hutan dan lahan. Ia membantah bila dikatakan pihaknya melanggar aturan. "Enggak, kami patuh aturan dan semua sesuai dengan SK dari Kementerian Lingkungan hidup," ucapnya.

    BacaMenhan Minta Petugas Berseragam Kopassus di RAPP Diperiksa

    Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup Bambang Hendroyono menambahkan, saat rapat tertutup tadi, Tony menjelaskan bahwa aktivitas pembukaan lahan yang diduga melanggar merupakan bagian dari rencana kerja tahunan (RKT) sebelumnya. "Pernyataan ini akan kami review bersama," ujarnya. 

    Sementara itu, Ketua BRG Nazir Foead mengatakan, dalam pertemuan tersebut, PT RAPP sepakat menghentikan sementara seluruh aktivitasnya di Meranti. Selama itu, pihaknya akan mencari solusi menyelesaikan konflik sosial yang terjadi antara perusahaan dan masyarakat atas kegiatan pembukaan lahan tersebut. "Kami syukuri kesediaan perusahaan hentikan semuanya dan mendengarkan aspirasi masyarakat," tuturnya. 

    BacaHadang Tim Badan Restorasi Gambut, Boss RAPP Minta Maaf

    Ia menambahkan, pihaknya belum mengetahui sejak kapan ada kanal di area konsensi tersebut. Karena itu, dalam waktu dekat, BRG akan meninjau kembali.

    Berdasarkan pantauan drone BRG, kanal tersebut berdiri sendiri dan tidak terhubung dengan kanal-kanal lain. Pihaknya khawatir, bila terhubung, kanal itu akan berfungsi sebagai sistem pengeringan (drainase). "Kami lihat tidak tersambung atau mungkin saja belum tersambung," katanya. 

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.