Muncul Lagi, Arcandra Bicara Nawa Cita Presiden Jokowi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Menteri ESDM, Arcandra Tahar dalam diskusi publik Projo Membangun Kedaulatan Energi di Hotel Darmawangsa Jakarta, 8 September 2016. Tempo/Odelia

    Mantan Menteri ESDM, Arcandra Tahar dalam diskusi publik Projo Membangun Kedaulatan Energi di Hotel Darmawangsa Jakarta, 8 September 2016. Tempo/Odelia

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri ESDM Arcandra Tahar, yang dicopot dari jabatannya karena memiliki dwi kewarganegaraan, muncul dalam diskusi publik Projo "Membangun Kedaulatan Energi" di Hotel Dharmawangsa Jakarta, Kamis, 8 September 2016.

    Ia mengatakan, kedaulatan energi merupakan Nawa Cita Presiden Jokowi ke-7. "Ini yang harus dilakukan oleh menteri karena menteri tidak punya visi misi pribadi," ujar Arcandra.

    Menurut Arcandra kedaulatan energi dapat membangun kemandirian bangsa. Kedaulatan energi dilakukan dengan mengeksporasi dan mengeksplorasi bahan tambang, mineral, minyak, maupun gas. "Nah, dilakukan untuk melihat dan memantau lapangan tua dan lahan baru," kata dia.

    Karena itu, menurut dia, ada tiga hal sebagai pilar yang harus diperhatikan untuk membangun kemandirian bangsa. Pertama adalah bagaimana membangun Sumber Daya Alam yaitu bagaimana memaksimalkan kebermanfaatannya.

    Kedua, tentang kedaulatan energi yang berbicara tentang pengelolaan, suplai, dan ketersediaan sumber energi. Ketiga adalah investasi. Investasi berkaitan dengan menciptakan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi.

    Selain itu Arcandra juga memaparkan strategi untuk meraih kemandirian bangsa. "Tiga hal juga terkait startegi ini," ujar Arcandra. Pertama, adanya transparansi dalam proses bisnis, kedua teknologi yang mumpuni, dan terakhir Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kompetensi, pengetahuan, skill, dan pengalaman.

    "Kita harus punya petarung untuk bernegosiasi," kata dia. Karena itu menurut Arcandra pemerintah harus menjamin kedaulatan energi baik dari segi pengelolaan, suplai, dan ketersediaan untuk masyarakat dan industri. "Agar bangsa ini berdaulat dalam kedaulatan energi," kata dia.

    ODELIA SINAGA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.