Angka Intoleransi di Indonesia, Sebuah Peringatan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sudah sebuah keharusan memperkuat lagi nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.

    Sudah sebuah keharusan memperkuat lagi nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.

    INFO MPR - Hasil survei sebuah lembaga menyebutkan bahwa 45 persen masyarakat Indonesia mengalami intoleransi. Sebanyak 7,7 persen di antaranya tertarik untuk ikut gerakan ISIS.

    “Hasil survei tadi baru saya baca di majalah Tempo saat berada di pesawat menuju ke sini,” kata Mayhudin dalam sambutannya pada acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Gedung Serba Guna Universitas Lampung, Rabu, 7 September 2016.

    Mahyudin mengatakan hasil survei ini menjadi fokus MPR RI untuk lebih mensosialisasikan paham Pancasila di tengah masyarakat Indonesia. Hal ini bertujuan agar paham-paham seperti radikalisme dan terorisme tidak semakin menguat dan bisa hilang dari bumi Indonesia. Kemudian, toleransi antar-umat beragama juga diperkuat. “Untuk bisa meredam intoleransi, kita harus bekerja keras mengantisipasinya. Artinya, terlepas benar atau tidak angka tersebut, itu merupakan peringatan bagi kita, atau motivasi MPR pada khususnya, untuk bekerja lebih giat lagi menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat Indonesia,” katanya.

    MPR juga sudah beberapa kali menyampaikan soal pentingnya sosialisasi Empat Pilar MPR kepada Presiden Joko Widodo. “Pak Jokowi juga merespons dengan baik. Semoga dengan berita ini, Pak Jokowi juga bisa lebih cepat meresponsnya. Beliau juga berjanji akan men-support penuh, dan tidak tertutup kemungkinan akan dibentuk lembaga baru yang ikut mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila di masyarakat. Pokoknya ini sudah sebuah keharusan untuk memperkuat lagi nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat,” ujar Mahyudin. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.