MPR Hadapi Tantangan Kebangsaan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemahaman agama yang lemah menimbulkan paham radikalisme dan terorisme.

    Pemahaman agama yang lemah menimbulkan paham radikalisme dan terorisme.

    INFO MPR - Wakil Ketua MPR RI Mahyudin mengakui, selain amandemen Undang-Undang Dasar (UUD), MPR RI menghadapi tantangan kebangsaan akhir-akhir ini.

    “Selain amandemen Undang-Undang Dasar, kami merasakan tantangan kebangsaan akhir-akhir ini,” ujar Mahyudin dalam sambutannya pada acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Gedung Serba Guna Universitas Lampung, Rabu, 7 September 2016.

    Salah satu tantangan dari internal adalah pemahaman agama yang lemah, yang menimbulkan paham radikalisme dan terorisme. Di Negara Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, kata Mahyudin, sebenarnya sudah jelas tidak ada larangan untuk memeluk agama yang berbeda-beda. “Mudah-mudahan tidak usah terjadi lagi kejadian seperti di Sumatera Utara baru-baru ini,” ucapnya.

    Tantangan lain yang dihadapi MPR adalah rasa kedaerahan yang terkadang malah dibawa ke publik oleh para calon bupati dengan kampanye yang berbau primordialisme dan SARA. Hal itu tidak dapat menjadi panutan atau contoh dari seorang publik figur. Selain itu, ada kekurangpahaman tentang Bhinneka Tunggal Ika. “Saat ini banyak pemimpin dan tokoh nasional, tokoh seni dan film, yang kurang keteladanannya dan memberikan contoh yang kurang baik bagi masyarakat. Padahal keteladanan itu sangat penting bagi seorang pemimpin,” tutur Mahyudin. Selain itu, penegakan hukum di Indonesia belum optimal.

    Adapun tantangan eksternal yang dihadapi MPR adalah arus globalisasi, di mana persaingan antarbangsa semakin tajam. “Di saat bersamaan, kita mengalami perang asimetris atau perang yang tidak kelihatan, ideologi yang cenderung mengadu domba. Ini perang melawan bangsa sendiri dan masih kita rasakan sekarang,” tutur Mahyudin.

    Dia juga mengingatkan, dalam pemilihan legislatif langsung saat itu, bukan tidak mungkin ada intervensi asing untuk merusak sistem demokrasi Indonesia. “Nah, itulah pentingnya pemahaman Empat Pilar ini ditanamkan kepada generasi muda seperti yang kita lakukan saat ini," kata Mahyudin. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.