Raih Anugerah M Yamin, Ini Kata Bagir Manan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Majelis Kehormatan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Bagir Manan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Anggota Majelis Kehormatan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Bagir Manan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan mendapatkan Anugerah Konstitusi Muhammad Yamin dari Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas. Bagir dianugerahi  lifetime achievement, karena dinilai konsisten dan persisten dalam memperjuangkan konstitusionalisme.

    Bagi Bagir, Muhammad Yamin merupakan salah satu founding father Indonesia. Ia juga salah seorang perumus konstitusi di negara ini dengan pelbagai konsepsi-konsepsinya itu.

    "Terima kasih atas anugerah ini. Yamin merupakan guru besar di almamater saya. Saat mahasiswa saya berdiri di pinggir melihat prosesi guru besarnya di universitas saya," ujarnya Selasa malam 6 September 2016, usai menerima anugerah di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

    Mantan Ketua Dewan Pers ini berharap PUSaKO sebagai penyelenggaran tidak sekedar lembaga kegiatan intelektual kekinian, tapi bagian dari warisan tradisi intelektual Ranah Minang. Banyak kaum intelektual lahir dari Minang yang berjuang untuk bangsa dan negara ini.

    Bagir merupakan alumnus Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Master of Comparative Law dari Dedman School of Law di Southern Mathodist University, Texas Amerika Serikat dan Doktor Hukum Tata Negara dari FH Unpad. Sejak 1971 ia berkarir di Departemen Kehakiman. Ia juga pernah menjadi Anggota DPRD Kotamadya Bandung, Staf Ahli Menteri Kehakiman, Anggota Komisi Ombudsman Nasional dan Rektor Universitas Islam Bandung.

    Pada tahun 2001, Bagir terpilih menjadi Ketua Mahkamah Agung RI hingga 2009. Kemudian dia juga ditunjuk sebagai Ketua Dewan Pers selama selama dua periode, sejak 2010 hingga 2016.

    Pria kelahiran Kalibalang Lampung ini juga aktif menulis dan menjadi editor puluhan buku tentang hukum dan ketatanegaraan. Hingga saat ini, dia juga aktif mengajar hukum tata negara diberbagai perguruan tinggi, seperti Unpad, Unisba, Universitas Indonesia dan UGM.

    "Dalam hidupnya, Bagir sudah mengabdikan hidupnya untuk penguatan konstitusionalisme. Bukan semata-mata konstitusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tapi pemahaman dan penghayatan terhadap pelaksanaan konstitusi," ujar Ketua Dewan Juri Todung Mulya Lubis di Bukittinggi, Selasa 6 September 2016.

    PUSaKO dan Tahir Foundation kembali menggelar Anugerah Konstitusi Muhammad Yamin ke-2, Selasa 6 September 2016 di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Anugerah ini diberikan kepada orang-orang yang berjasa dalam pengembangan pemikiran konstitusi hukum tata negara di Indonesia.

    Selain Bagir, ada tiga tokoh yang juga menerima anugerah ini, yakni Moh Mahfud MD, Zainal Arifin Mochtar dan Tri Agung Kristanto. Mereka dinilai tujuh orang dewan jurinya, yaitu Todung Mulya Lubis, Saldi Isra, Anhar Gonggong, Yuliandri, Susi Dwi Harijanti, Ni’matul Huda, dan Budiman Tanuredjo.

    Mahfud MD meraih kategori karya monumental. Mantan Ketua Mahkaman Konstitusi ini menulis disertasi berjudul Politik Hukum. Disertasinya itu diterbitkan menjadi buku yang berjudul Politik Hukum di Indonesia.

    Todung mengatakan disertasi Mahfud ini memberikan satu kajian yang cukup komprehensif tentang hubungan hukum tata negara dengan politik. Buku ini sebagai literatur penting ilmu hukum tata negara dan ilmu politik di Indonesia

    "Garis yang memisahkan hukum tata negara dan ilmu politik itu sangat tipis. Tidak ada yang mengimplementasikan atau menegakkan hukum dalam ruang hampa politik. Tidak ada hukum tata negara bisa ditegakkan tanpa ada pertimbangan-pertimbangan politik. Mahfud menguraikan ini dalam disertasinya," ujar Todung.

    Kategori jurnalis konstitusi dianugerahi kepada Tri Agung Kristanto. Wartawan Harian Kompas ini telah menunjukan dedikasinya dalam melahirkan karya jurnalistik dengan isu tata negara, hukum dan demokrasi.

    Sedangkan, kategori pemikir muda hukum tata negara diraih Zainal Arifin Mochtar. Dosen Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada ini dinilai konsisten berkontribusi aktif dalam memberikan warna terhadap perkembangan ketatanegaraan. Pria berumur 38 tahun ini aktif menuangkan pemikirannya sebagai ahli hukum tata negara ke dalam bentuk tulisan di media massa, jurnal dan menerbitkan sejumlah karyanya dalam bentuk buku. Ia juga aktif mengikuti seminar dan talkshow.

    Direktur Pusat Studi Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Andalas Saldi Isra mengatakan, pemikir muda hukum tata negara merupakan kategori baru pada anugerah ini. Kategori ini muncul untuk proses kaderisasi dan menelusuri anak muda yang fokus terhadap isu hukum tata negara.

    "Anak muda yang umurnya di bawah 40 tahun dan fokus terhadap ketatanegaraan," ujarnya Selasa 6 September 2016.

    ANDRI EL FARUQI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.