Kasus Siswa dan Ortu Keroyok Guru di Makassar Berakhir Damai  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dasrul, guru SMKN 2 Makassar, yang menjadi korban pemukulan, menjalani pemeriksaan di Polrestabes Makassar. IQBAL LUBIS

    Dasrul, guru SMKN 2 Makassar, yang menjadi korban pemukulan, menjalani pemeriksaan di Polrestabes Makassar. IQBAL LUBIS

    TEMPO.CO, Makassar - Kasus dugaan pengeroyokan guru yang dilakukan siswa Sekolah Menengah Atas 2 Makassar berinisial MAS, 15 tahun, bersama ayahnya berakhir damai di Pengadilan Negeri Makassar. Guru yang menjadi korban, Dasrul, 52 tahun, menyatakan memaafkan pelaku yang tak lain adalah muridnya sendiri.

    "Korban legawa dan tidak menuntut apa-apa dari terdakwa," ucap pengacara Dasrul, Rachmat Sanjaya, Selasa, 6 September 2016.

    Baca: Guru Dikeroyok Murid dan Ayahnya
    Berita Pengeroyokan Guru Dasrul

    Sebelumnya, hakim tunggal Pengadilan Negeri Makassar, Teguh Sri Raharjo, menjadwalkan sidang perdana terhadap MAS. Namun Teguh meminta jaksa penuntut umum, pengacara terdakwa, serta pengacara korban melakukan proses diversi (pengalihan penanganan kasus).

    Rachmat mengatakan kliennya bersedia untuk proses mediasi perkara itu. Menurut dia, pada dasarnya, korban tidak ingin terdakwa menjalani proses persidangan yang panjang. "Klien kami hanya minta terdakwa dikembalikan kepada orang tuanya untuk dibina," ujarnya.

    Dasrul yang hadir dalam proses diversi menolak berkomentar. Tak sepatah kata pun keluar saat ditanyai wartawan ketika ia keluar ruang mediasi.

    Pengacara MAS, Abdul Gofur, menuturkan pihaknya menempuh jalur diversi karena terdakwa masih di bawah umur. Menurut dia, meski dijerat Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, tidak selayaknya terdakwa harus menjalani proses pidana. "Terdakwa masih bisa dibina untuk mengubah sikap dan perilakunya," ucapnya. Abdul mengapresiasi sikap Dasrul yang meminta perkara itu tidak dilanjutkan ke tahap persidangan.

    Jaksa penuntut umum, Andi Rustiani Muin, mengatakan pihaknya menunggu surat penetapan dari Ketua Pengadilan Negeri Makassar setelah korban dan terdakwa sepakat pada proses diversi. Rencananya, surat itu akan diterbitkan pada Kamis, 8 September 2016. "Surat itu akan jadi dasar untuk menghentikan perkara dan membebaskan terdakwa dari tahanan," ujarnya.

    Pengeroyokan terjadi pada 10 Agustus 2016 di halaman SMA Negeri 2 Makassar. MAS bersama ayahnya, Adnan Achmad, mengeroyok Dasrul. Akibat pengeroyokan itu, Dasrul mengalami patah tulang hidung. Pengeroyokan terjadi karena sebelumnya Dasrul juga diduga memukul MAS karena melontarkan kata kasar saat dihukum akibat tidak membawa perlengkapan belajar.

    Saat ini MAS telah dikeluarkan dari SMA Negeri 2 Makassar. Adapun ayah MAS, Adnan, belum menjalani persidangan. Penyidik Kepolisian Resor Kota Besar Makassar masih melakukan pemberkasan terhadap tersangka.

    ABDUL RAHMAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fakta-fakta Pelantikan Jokowi - Ma'ruf, Dihadiri Prabowo - Sandi

    Selain beberapa wakil dari berbagai negara, pelantikan Jokowi - Ma'ruf ini dihadiri oleh Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.