RUU Jabatan Hakim, KY Minta Manajemen Hakim Terbuka  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Komisi Yudisial usai mengikuti pengambilan sumpah pada acara pelantikan di Istana Negara, Jakarta, 18 Desember 2015. Para anggota KY yang dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 120/P/Tahun 2015 terdiri atas Kolonel (Purn) Chk Dr Joko Sasmito, Maradaman Harahap (mantan hakim), Sukma Violetta (anggota masyarakat), Sumartoyo (praktisi hukum), dan Farid Wajdi (praktisi hukum). Tempo/ Aditia Noviansyah

    Anggota Komisi Yudisial usai mengikuti pengambilan sumpah pada acara pelantikan di Istana Negara, Jakarta, 18 Desember 2015. Para anggota KY yang dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 120/P/Tahun 2015 terdiri atas Kolonel (Purn) Chk Dr Joko Sasmito, Maradaman Harahap (mantan hakim), Sukma Violetta (anggota masyarakat), Sumartoyo (praktisi hukum), dan Farid Wajdi (praktisi hukum). Tempo/ Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga Komisi Yudisial Farid Wajdi menilai pola manajemen hakim harus lebih terbuka dan transparan sebagai konsekuensi status hakim sebagai pejabat negara. Menurut dia, sistem satu atap yang selama ini dipegang tunggal dan mutlak oleh Mahkamah Agung harus mulai dibagi kepada lembaga eksternal dan masyarakat.

    "Justru kontrol pengawasan akan lebih efektif. Pelibatan publik juga akan mengembalikan kepercayaan masyarakat," kata Farid melalui pesan pendek, Selasa, 6 September 2016.

    Hal ini disampaikan Farid untuk menanggapi keputusan Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat yang menyetujui draf Rancangan Undang-Undang Jabatan Hakim dari Komisi Hukum. Menurut dia, RUU Jabatan Hakim jangan sampai hanya berfokus pada soal hak keuangan dan fasilitas pejabat negara bagi hakim. Ia mengklaim, lembaganya berharap beleid ini mampu menjadi tonggak perubahan menyeluruh seluruh sistem kehakiman.

    "Perlu ada jaminan, dunia peradilan ke depan akan jauh lebih baik," kata Farid.

    Dalam rapat dengar pendapat umum RUU Jabatan Hakim, Komisi Yudisial memang mengajukan beberapa usul terhadap pasal-pasal dalam draf tersebut kepada Badan Legislasi. Salah satunya adalah meningkatkan kekuatan rekomendasi sanksi yang diberikan Komisi Yudisial terhadap hakim yang melakukan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku hakim.

    Selama ini, rekomendasi sanksi dari Komisi Yudisial kerap sia-sia karena Mahkamah Agung tak wajib menjalankannya. Dalam RUU Jabatan Hakim, Komisi Yudisial meminta DPR memberikan jaminan rekomendasi lembaga pengawas eksternal tersebut bersifat mengikat. Bahkan dapat menjadi pertimbangan dalam promosi dan mutasi hakim.

    FRANSISCO ROSARIANS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.