Matematika Anak Dapat Nilai Nol, Ayah Mengadu ke Komnas Anak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Panca Syurkani

    TEMPO/Panca Syurkani

    TEMPO.COBandung - Guru bimbingan karier Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Bandung, Dewi Ramdhani, menyarankan siswi berinisial DV mendapat bimbingan psikolog. DV adalah siswi kelas X yang tidak naik kelas karena nilai salah satu mata pelajarannya, yakni matematika, nol. Ayah siswi tersebut tidak puas dan berencana mengadu ke Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia.

    Menurut Dewi, DV mengalami akumulasi masalah yang tidak tuntas sehingga perlu pertolongan psikolog. Masalah itu diketahui dari curahan hati yang ditulis DV secara runut dan diperlihatkan kepada ibunya. “Isinya apa, tidak boleh diungkap. Anaknya perlu ke psikolog untuk mendapatkan terapi khusus,” ujar Dewi kepada Tempo di sekolahnya, Senin, 5 September 2016.

    Dewi menyayangkan sikap orang tua yang tidak menceritakan masalah DV di sekolah sebelumnya. Akibatnya, guru-guru bimbingan karier mencari informasi ke guru-guru SD dan SMP kenalannya di bekas sekolah DV. “Seharusnya dari awal orang tuanya terbuka sama kami. Jangan yang bagusnya saja soal ranking, tapi kondisi sosialnya juga penting karena sekolah bukan cuma soal otak kan,” katanya.

    Pihak sekolah mencatat DV beberapa kali sakit sehingga lalai mengerjakan tugas. Akibatnya, ada nilai yang kosong sehingga keluar nilai nol pada rapor di pelajaran matematika. Walau DV kini tak bersekolah lagi di SMAN 4 Bandung, pihak sekolah masih menganggap DV sebagai siswinya. 

    “Kami siap terima anak bersekolah. Walau bersekolah ke psikolog juga harus jalan dan komunikasi dengan orang tua diperbaiki supaya ada perubahan,” tuturnya. 

    Ayah siswi tersebut menyatakan tidak puas atas keputusan sekolah yang membuat DV tidak naik kelas. Berdalih DV mengalami sakit sehingga sulit mengerjakan tugas, upaya mediasi dengan pihak sekolah akhirnya gagal. Karena itu, ayah DV akan mengadu ke Komisi Nasional Perlindungan Anak.

    Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Elih Sudiapermana mengatakan setiap waktu ada siswa yang tidak naik kelas. Namun kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi. Dinas berjanji membantu upaya mediasi pada persoalan tersebut. “Kami tidak bermaksud siswi menjadi korban,” tuturnya. 

    ANWAR SISWADI

    Baca juga: Heboh Soal Pizza: Inilah 3 Hal Aneh Sekaligus Merisaukan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.