Menteri Tjahjo: Bersinergi Jadi Kunci Sukses Smart City

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah karyawan bekerja di ruangan Command Center, Jakarta Smart City Lounge di Balai Kota DKI Jakarta, 22 April 2016. Ruangan ini dilengkapi dengan LED Wall yang berfungsi mengontrol aktifitas terkini di Ibukota. TEMPO/Frannoto

    Sejumlah karyawan bekerja di ruangan Command Center, Jakarta Smart City Lounge di Balai Kota DKI Jakarta, 22 April 2016. Ruangan ini dilengkapi dengan LED Wall yang berfungsi mengontrol aktifitas terkini di Ibukota. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Bandung - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan setiap kepala daerah harus berani mengambil risiko guna melakukan inovasi-inovasi terbaru ihwal pelayanan publik di daerahnya masing-masing. Menurut Tjahjo, konsep smart city yang kini banyak didengungkan tiap kepala daerah menjadi salah satu tonggak kemajuan pemerintah daerah dalam melakan tugasnya sebagai abdi masyarakat.

    "Dengan smart city diharapkan setiap kepala daerah khususnya wali kota, ada keberanian untuk melakukan inovasi-inovasi di daerahnya masing-masing," ujar Tjahjo saat menutup acara Indonesia Smart City Forum 2016, di Hotel Trans Luxury, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Sabtu, 3 September 2016.

    Menurut mantan Sekertaris Jendral Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu, sudah selayaknya, tiap pimpinan daerah di Tanah Air untuk melakukan perencanaan jangka panjang. Setiap wali kota ataupun bupati jangan terpaku pada jenjang periode kepemimpinan yang hanya berkisar antara 5 hingga 10 tahun masa jabatan.

    "Pola pikir kepala daerah jangan tebatas dengan periode 5 atau 10 tahun saja. Perencanaan jangka panjang sangat dibutuhkan tiap daerah kalau ingin maju. Contoh, dalam mempersiapkan sebuah kawasan industri, harus lama, membutuhkan perencanaan 50 bahkan 100 tahun kedepan," ujarnya.

    Tjahjo mengatakan tujuan smart city yakni bisa menciptakan perencanaan jangka panjang juga pengembangan tatanan masyarakat menuju arah yang lebih baik di masa yang akan datang. Sebuah kota agar lebih baik, katanya, juga harus bisa meningkatkan produktivitas daerahnya agar terjadi pemerataan di tiap daerah.

    Tjahjo menjelaskan smart city harus jadi pijakan setiap kepala daerah. Setidaknya dengan adanya smart city planing, kepala daerah lebih melek menyangkut masalah retribusi, dan lain-lain. Konsepnya meliputi, cerdas ekonomi, cerdas mobilitas, cerdas lingkungan, pemerintahan yang cerdas, manusia yang cerdas, juga cerdas secara kehidupan.

    Makanya, kata dia, sudah saatnya setiap daerah menjalin kerekatan agar bisa bersinergis antara satu dan yang lainnya. Kuncinya adalah adanya sinergi antar kota, antar wilayah dalam rangka untuk membangun sebuah jaringan menuju kota yang cerdas.

    Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan kolaborasi antar pemerintah daerah menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan penerapan konsep smart city. "Jadi harus saling menginspirasi, kurangi kaya kompeti dan perbanyak kolaborasi agar bisa bersinergis," katanya.

    Indonesia Smart City Forum 2016, menghasilkan kesepakatan yang diberi label 'Kesepakatan Bandung Menuju Indonesia Smart Nation'. Ada empat kesimpulan yang dihasilkan ISCF 2016 itu. Di antaranya:

    1. Integrasi konsep dan platform smart city sebagai fondasi Indonesia Smart Nation.

    2. Kolaborasi antar pemerintah daerah untuk saling bersinergi dalam pembangun smart city di wilayah masing-masing.

    3. Memfasilitasi peningkatan sinergi ABGC (academic, business, government, community) oleh pemerintah guna mewujudkan smart city.

    4. Berbagi pakai aplikasi untuk mempercepat dan mengefisienkan pembangunan smart city melalui tempat penyimpanan (repository) nasional.

    AMINUDIN A.S


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.