Kisah Delila dan Hutan untuk Anak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Bappeda Provinsi NTT Wayan Darmawa membuka Festival Praktek Cerdas yang digagas Wahana Visi Indonesia di Hotel Neo Kupang, 30 Agustus 2016. TEMPO/Juli

    Kepala Bappeda Provinsi NTT Wayan Darmawa membuka Festival Praktek Cerdas yang digagas Wahana Visi Indonesia di Hotel Neo Kupang, 30 Agustus 2016. TEMPO/Juli

    TEMPO.CO, Kupang- Beragam inovasi dan terobosan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat desa ditampilkan dalam Festival Praktek Cerdas yang digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 30-31 Agustus 2016 lalu. Individu maupun kelompok yang menjadi agen perubahan berbicara tentang sepak terjang mereka memajukan kesejahteraan warga desa.

    Seperti kisah Delila Konga Wandal, 38 tahun yang mengubah wajah gersang desanya menjadi sejuk karena saat ini sudah berdiri hutan tanaman jati dan mahogani.

    Bukan perkara mudah bagi Delila untuk mengubah kebiasaan warga Desa Kalamba Kecamatan Haharu, Sumba Timur.  “Awalnya banyak yang bilang kurang kerjaan,” kata dia.

    Warga Kalamba memang tak mengenal pola menanam pohon keras. Selama ini mereka membiarkan tanah desa yang gersang. Menurut Abner Sembong Manajer wilayah Sumba Wahana Visi Indonesia, masyarakat di awal harus diiming-imingi beras untuk menanam. “Kami mengatakan kalau mau nanam nanti diberi beras,” katanya. Setelah tanaman mereka tumbuh, perlahan warga tak lagi diberi iming-iming itu.

    Delila yang menjadi tokoh kunci di desa itu pun berusaha meyakinkan warga dengan pendekatan kerohanian. “Saya memajukan pendekatan alkitabiyah dengan menggunakan Firman Tuhan yang menyebut pelihara hutan untuk anakmu,” kata dia.Pendekatan ini berhasil meyakinkan warga desanya untuk mulai menanam.

    Tanaman keras seperti jati dan mahogani yang bibitnya disediakan Dinas Kehutanan setempat kemudian mulai ditanam warga. Dalam setahun sebanyak 37 demplot sudah ditanami pepohonan itu. Satu demplot terdiri dari satu sampai lima hektar.

    Delila juga menggalakan sistem palotang. Sistem ini adalah pemangkasan batang-batang pohon agar tanaman bisa cepat tumbuh dengan kondisi air yang kurang. Selain menanam pohon jati, warga desa Kalamba juga menanam tanaman tumpang sari seperti kacang dan ubi. "Dulu warga makan ubi beracun atau iwi," kata Delila.

    Ubi ini dicari warga di hutan-hutan. Untuk mengonsumsinya, iwi harus diolah dengan hati-hati dan lama. Salah mengolah, nyawa taruhannya. Kini warga menanam ubi jalar di sela-sela tanaman keras itu.

    Desa Kalamba yang gersang berubah menjadi hijau. "Sekarang suasana lebih adem," kata Delila. Hanya saja ancaman kebakaran hutan tetap mengintai. Masih banyak masyarakat di sana yang membuka lahan dengan cara membakar. "Walau kami sudah memberi sekat api, namun jika angin kencang tetap saja api merambat ke hutan jati," kata Delila.

    Adapun praktek cerdas lain yang ditampilkan adalah Skol Amnasit. Ini adalah kearifan lokal yang coba dibangun kembali di beberapa desa di Nusa Tenggara Timur. Skol amnasit berarti sekolah orang tua. Ini bukanlah sekolah reguler untuk orang tua, melainkan semacam pertemuan para orang tua murid agar bisa membimbing anak mereka di luar sekolah.

    "Dulu orang tua sangat ramah dan kerap saling menasehati," kata Serilius Kevi dari Desa Nimasi. Ia ikut dalam program skol amnasit yang digagas Wahana Visi Indonesia. Orang tua diajak berdiskusi untuk bisa kembali menjadikan anak sebagai teman di rumah.

    Dengan adanya skol amnasit ini, tanggung jawab terhadap pendidikan anak tak sepenuhnya diserahkan ke sekolah. Orang tua kini wajib ikut bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter anak. "Saya merasakan betul manfaat skol amnasit," kata Alexander Toabun, 48 tahun dari desa Haulase.

    JULI HANTORO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.