Soal Pemindahan Merry Utami, LBH Merasa Dipermainkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis perempuan kota Semarang melakukan aksi menolak eksekusi mati terhadap Merry Utami di Jalan Pahlawan, Semarang, 28 Juli 2016. Mereka menilai pelaksanaan eksekusi mati bertentangan dengan hak asasi manusia. Budi Purwanto

    Aktivis perempuan kota Semarang melakukan aksi menolak eksekusi mati terhadap Merry Utami di Jalan Pahlawan, Semarang, 28 Juli 2016. Mereka menilai pelaksanaan eksekusi mati bertentangan dengan hak asasi manusia. Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) mengajukan pengaduan ke Komisi Kejaksaan terkait dengan sikap Kejaksaan Agung yang lambat merespons kasus terpidana mati Merry Utami. Kuasa hukum dari LBH, Arinta Dea, menjelaskan, Kejaksaan Agung tidak memberikan kepastian pemulangan Merry ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Tangerang.

    “Atas permohonan keluarga, kami meminta kejelasan dari kejaksaan untuk segera memindahkan Merry Utami. Kejaksaan terkesan lamban dan seolah-olah tidak mau bertanggung jawab. Kami juga merasa di ping-pong untuk sekadar meminta klien kami dipindahkan ke tempat yang lebih layak,” kata Arinta di gedung Komisi Kejaksaan, Jakarta, Selasa, 30 Agustus 2016.

    Menurut Arinta, pihaknya telah mengajukan permohonan lisan dan tertulis kepada Kepala Lapas (Kalapas) Cilacap untuk memulangkan Merry ke Lapas Wanita Tangerang. Namun Kalapas mengklaim tidak memiliki kewenangan lantaran kasus Merry masih berada di bawah koordinasi jaksa eksekutor.

    Baca Juga: Kisah Merry Utami, Dari TKI, Narkoba Sampai Dihukum Mati

    “Kami (melakukan) audiensi ke Kejaksaan Negeri Tangerang dan mereka mengatakan ini kewenangan Ditjen Pas (Direktorat Jenderal Pemasyarakatan),” ujar Arinta.

    Arinta menjelaskan, Merry telah mendekam di Lapas Wanita Tangerang selama 15 tahun. Di sana, Merry bisa melakukan banyak kegiatan, seperti mengikuti perlombaan saat Natal. Persaudaraan Merry dengan narapidana lainnya sudah terbangun kuat. Karena itu, Merry selalu bertanya bagaimana perkembangan proses pemindahannya.

    “Ibu cukup stres karena tidak punya kegiatan dan hanya berada di sel isolasi setiap hari. Bu Merry butuh dikuatkan secara psikologis. Mentalnya perlu dikuatkan,” ucap Arinta.

    Simak: Dua Permintaan Merry Utami Sebelum Dieksekusi

    Merry divonis hukuman mati karena kedapatan membawa heroin 1,1 kilogram di dalam tasnya. Namun, pada Jumat, 29 Juli 2016, pemerintah menunda eksekusi mati perempuan yang pernah bekerja sebagai pembuat batu bata itu.

    LANI DIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.