Di UGM, Menteri Pratikno Cerita Soal Kemiskinan di Serang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Sekretaris Negara Pratikno Foto Bersama Alumni Universitas Gajah Mada di Rumahnya Saat Buka Bersama, Jakarta, 19 Juni 2016. Tempo/Maya Ayu

    Menteri Sekretaris Negara Pratikno Foto Bersama Alumni Universitas Gajah Mada di Rumahnya Saat Buka Bersama, Jakarta, 19 Juni 2016. Tempo/Maya Ayu

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, memberikan wejangan di depan 4.096 mahasiswa baru program pascasarjana UGM di Grha Sabha Pramana UGM, Selasa, 30 Agustus 2018.

    Di hadapan mahasiswa baru tersebut, Pratikno mengatakan Presiden Joko Widodo memberikan perhatian serius terhadap persoalan kemiskinan di berbagai pelosok daerah.

    Menurut Pratikno, Presiden dalam setiap kesempatan berkunjung ke daerah selalu meminta kepada kepala daerah setempat untuk diajak menengok langsung lokasi perkampungan miskin.“Beliau selalu meminta, antarkan saya ke kampung paling miskin,” kata Pratikno menirukan ucapan Presiden, seperti dikutip dari laman ugm.ac.id, Selasa, 3 Agustus 2016.

    Dalam kesempatan itu, Pratikno menceritakan belum lama ini Presiden berkunjung ke Kota Serang, Banten, dan meninjau perkampungan miskin di daerah tersebut. Presiden menilai sebagian penduduknya masih ada yang tinggal di rumah yang tidak layak huni.

    Saat menyusuri jalan di daerah tersebut, kata Pratikno, Presiden melihat banyak lahan kosong yang tidak digarap oleh warga. Hal itu kemudian ditanyakan langsung kepada Bupati. “Ketika ditanya, itu milik siapa? ternyata milik pengembang,” kata Pratikno.

    Menurut Pratikno, Presiden prihatin bahwa kemiskinan di kota Serang yang lokasinya tidak jauh dari ibu kota ternyata cukup mengenaskan. Bahkan, kehidupan masyarakat miskin di sana belum mendapat perhatian dari pemerintah setempat. “Memang ketimpangan masyarakat kita sungguh luar biasa, sudah menurun, kita tetap berusaha agar ketimpangan makin rendah,” ujarnya.

    Adapun Ganjar Pranowo menyampaikan tentang pentingnya pendidikan karakter dalam membangun integritas bangsa. Menurut dia, apabila lembaga pendidikan tidak menanamkan nilai budi pekerti dan pendidikan karakter dikhawatirkan akan menghasilkan lulusan yang rendah integritas.

    Dia mencontohkan soal maraknya peredaran narkoba di tanah air, dan Indonesia dijadikan pasar bagi produsen narkoba. Menurutnya, maraknya peredaran obat terlarang tersebut karena dibekingi oknum aparat. “Mental anak bangsa rontok karena orang yang tidak punya integritas, tidak malu ambil punya orang lain,” ungkapnya.  

    IQBAL MUHTAROM

     

    Yogyakarta -


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.