Kasus Teror di Medan, Kapolri Gunakan UU Perlindungan Anak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal M. Tito Karnavian menjawab pertanyaan wartawan seusai menghadiri Hari Jadi Polwan ke-68 di halaman parkir Polda Metro Jaya, 28 Agustus 2016. Tempo/Rezki A.

    Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal M. Tito Karnavian menjawab pertanyaan wartawan seusai menghadiri Hari Jadi Polwan ke-68 di halaman parkir Polda Metro Jaya, 28 Agustus 2016. Tempo/Rezki A.

    TEMPO.CO, Padang - Kepala Kepolisian Republik Indonesia M. Tito Karnavian akan menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 untuk menangani pelaku teror di Gereja Katolik Stasi Santo Yoseph, Medan, Sumatera Barat. Sebab, pelaku percobaan bom bunuh diri, IAH, baru berumur 17 tahun.

    "Pelaku umurnya kurang dari 18 tahun, yaitu 17 tahun 10 bulan. Menurut UU Perlindungan Anak, itu masuk kategori anak-anak," ujarnya saat berada di Kota Padang, Sumatera Barat, Senin, 29 Agustus 2016.

    IAH merupakan warga Tanjung Sari, Medan. Pria kelahiran 22 Oktober 1998 ini melukai pastor Albert sebelum pria berusia 60 tahun itu berkhotbah pada Ahad, 28 Agustus 2016. IAH membawa tas ransel yang berisi tiga bom pipa berdaya ledak rendah. Sebelum beraksi, tas ransel tersebut mengeluarkan percikan api dan asap.

    Tito menduga, IAH bergerak sendiri dan tidak terkait dengan jaringan teroris tertentu. IAH, kata Tito, mempelajari ideologi radikal melalui Internet.

    Kemudian, pelaku diduga belajar membuat bom melalui informasi online. Bom yang dibikinnya terlihat sederhana, mirip dengan mercon, sehingga ledakannya tidak sempurna. "Sementara kami anggap ini pelaku tunggal. Perkembangan lanjut akan kami sampaikan nanti," ujarnya.

    Hal senada juga disampaikan Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso, yang menyebut pelaku bom bunuh diri di Gereja Santo Yoseph, Medan, Sumatera Utara, bergerak sendirian. "Itu pemain sendiri, seperti juga di Solo. Dari peta BIN, dia tidak masuk jaringan tertentu," kata Sutiyoso di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin, 29 Agustus 2016.

    Sutiyoso berujar, IAH adalah simpatisan ISIS yang mempelajari kelompok ekstremis Suriah dari Internet. "Ia terinspirasi kelompok garis keras dari Internet, lalu belajar mengemas bom dari Internet," katanya. Dalam penggeledahan, kata dia, ditemukan gambar ISIS dan tulisan I Love Al Baghdadi. "Itu kan menunjukkan dia simpatisan."

    Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengungkapkan hal serupa. "Sekarang sedang pendalaman dan (menurut) hasil pendalaman, dia bukan termasuk jaringan terorisme internasional," kata Wiranto.

    Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan Polri melakukan patroli siber untuk memonitor website-website radikal. Mereka berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika terkait dengan konten bernuansa radikal tersebut.

    "Siklus (website) terus bergerak. Lima berhenti, besok muncul lagi. Makanya kami melakukan patroli di dunia siber," ujarnya saat mendampingi Kapolri Jenderal Tito di Kota Padang, Sumatera Barat, Senin, 29 Agustus 2016.

    Namun, kata dia, yang perlu ditingkatkan adalah daya tahan masyarakat menghadapi arus informasi seperti ini. Gelombang informasi di era globalisasi seperti ini tak terbendung. Karena itu, masyarakat harus membangun ketahanan memilih dan menerima informasi yang bisa melanggar hukum dan nilai-nilai etika bangsa.

    ANDRI EL FARUQI | ARKHELAUS W


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    WhatsApp Pay akan Meluncurkan E - Payment, Susul GoPay dan Ovo

    WhatsApp akan meluncurkan e-payment akhir tahun 2019 di India. Berikutnya, WhatsApp Pay akan melebarkan layanannya ke Indonesia.