Korban Bencana Dihibur Kesenian Sunda, Pulihkan Trauma

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komunitas musik bambu Sunda memainkan karya mereka pada Festival Budaya Masyarakat Adat Tatar Sunda di Desa Cikadut, Bandung, Jawa Barat, (28/5). Sejumlah kesenian Sunda buhun yang sudah langka dimainkan kembali di festival tersebut. TEMPO/Prima Mulia

    Komunitas musik bambu Sunda memainkan karya mereka pada Festival Budaya Masyarakat Adat Tatar Sunda di Desa Cikadut, Bandung, Jawa Barat, (28/5). Sejumlah kesenian Sunda buhun yang sudah langka dimainkan kembali di festival tersebut. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.COTasikmalaya - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya menggelar festival budaya pasca-bencana di Kampung/Kecamatan Parungponteng, Sabtu, 27 Agustus 2016. Kampung Parungponteng termasuk salah satu daerah yang pernah dilanda longsor dan pergerakan tanah tahun lalu.

    "Korban bencana perlu kegiatan yang bersifat hiburan untuk memulihkan trauma," kata Kepala Subbidang Pemulihan dan Peningkatan Sosial BNPB Gatot Sudjono di sela festival budaya ini, di Lapangan Desa Parungponteng. Festival budaya tersebut mempertunjukkan kesenian longser, angklung, gamelan, dan sebagainya.

    Gatot meminta semua warga Parungponteng berperan dalam festival budaya tersebut. "Mudah-mudahan kembali pulih," katanya berharap.

    Gatot menjelaskan, di BNPB ada Deputi Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca-bencana yang salah satu kegiatannya memulihkan korban bencana supaya hidup seperti semula. "Otomatis ada kegiatan-kegiatan yang menopang, seperti pembangunan rumah, infrastruktur, serta kegiatan sosial dan ekonomi," ujarnya.

    Festival budaya ini, kata Gatot, adalah salah satu subsektor dari pemulihan dan peningkatan sosial. Dia berujar, pemulihan sosial terbagi dalam lima bidang, yakni pendidikan, kesehatan, budaya, agama, dan lembaga sosial. "Ini baru subsektor budaya, berarti masih banyak yang harus dilaksanakan (untuk pemulihan trauma bencana)," ucapnya.

    Menurut Gatot, mental warga korban bencana perlu dipulihkan agar tidak trauma. Setelah normal, baru diperhatikan soal ekonominya. "Setelah normal, bisa disuruh menanam aren untuk diolah jadi gula untuk ekonomi mereka," katanya.

    Pemulihan trauma bencana, menurut Gatot, perlu waktu lama. Korban letusan Gunung Merapi dan Sinabung, kata dia, masih ada yang trauma. "Perlu sentuhan-sentuhan sosial seperti ini," tuturnya.

    Selain sentuhan sosial, sentuhan agama diperlukan. Penyuluhan dari tokoh-tokoh agama sangat penting. "Iman kuat kalau kena musibah, bisa saja goyang," ujar Gatot.

    Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya Abdul Kodir menambahkan, festival ini diikuti perwakilan warga dari 15 kecamatan. Kelima belas kecamatan tersebut sebelumnya pernah dilanda bencana alam. "Kita fokuskan di Parungponteng. Ke depan bisa giliran di daerah lain," katanya.

    Ditanya ihwal pemulihan ekonomi korban bencana, Kodir mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan langkah jangka pendek, menengah, dan panjang. "Kalau sudah pulih, tinggal kita rencanakan pemulihan ekonomi supaya mereka berpikir untuk ekonominya," ujarnya.

    Penanaman pohon aren termasuk pemulihan ekonomi jangka panjang. Kodir mengatakan gula merah yang terbuat dari air pohon aren sangat laku di pasaran dan harganya cukup tinggi. "Bisa dengan menanam aren," ujarnya.

    Sebelumnya, bencana pergerakan tanah terjadi di Kampung Cihonje, Kecamatan Parungponteng. Rumah milik warga rata dengan tanah karena tanah di bawahnya amblas. Peristiwa ini tidak memakan korban jiwa karena warga sudah mengungsi ke tempat aman sesaat sebelum kejadian.
     
    CANDRA NUGRAHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.