Dicari Polisi, Bos Biro Travel Haji via Manila Malah Hilang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 177 calon jemaah haji WNI saat berada di Masjid Kedutaan Besar RI di Manila, Filipina / Dokumentasi Kementerian Luar Negeri RI

    177 calon jemaah haji WNI saat berada di Masjid Kedutaan Besar RI di Manila, Filipina / Dokumentasi Kementerian Luar Negeri RI

    TEMPO.COJakarta - Polisi telah mendatangi kediaman Ade Purnama, pemilik travel haji Hade Al Barde, yang tersangkut kasus pemberian paspor palsu pada pemberangkatan 177 anggota jemaah haji asal Indonesia melalui Manila, Filipina, pada Sabtu, 27 Agustus 2016. 

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono mengatakan polisi mendatangi kediaman Ade Purnama, yang beralamat di Tugu Selatan, Koja. 

    Babinkamtibnas Kelurahan Tugu Selatan bersama Kepala Unit Intelijen Keamanan Polsek Koja Ajun Komisaris Gampang menyambangi kediaman Ade. "Tapi yang bersangkutan tidak ada," kata Awi kepada wartawan, Sabtu, 27 Agustus 2016.

    Awi menuturkan kedua perwakilan Polri tersebut sudah menemui ketua RT setempat, Imsya Maryono. Berdasarkan keterangan Imsya, polisi mendapat info bahwa keluarga Ade sudah tidak lagi berada di rumah tersebut. "Bapak Ade dan keluarga sudah tidak di rumah tersebut sejak 16 Agustus lalu," tuturnya.

    Awi menambahkan ketua RT tersebut juga membenarkan kabar keberadaan Ade di Filipina terkait dengan kasus paspor keberangkatan haji bermasalah yang menyangkut travel haji milik Ade. Kedatangan perwakilan pihak Polri, kata Awi, merupakan bagian dari atensi Polri dalam kasus ini. "Sebelumnya, kan, banyak dikabarkan rumah yang bersangkutan di Koja, maka kami mengecek," ujarnya.

    Dari pemeriksaan polisi, diketahui kediaman Ade dihuni 11 orang. "Mereka terdiri atas 6 anak, 2 saudara, dan 1 pembantu," kata Awi.

    INGE KLARA SAFITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.