Sabtu, 24 Februari 2018

Ini Pidato dari Forum LGBTIQ Pemenang Tasrif Award dari AJI

Oleh :

Tempo.co

Sabtu, 27 Agustus 2016 11:11 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ini Pidato dari Forum LGBTIQ Pemenang Tasrif Award dari AJI

    Sejumlah perwakilan Forum LGBTIQ Indonesia mengadakan konferensi pers guna menggugat pernyataan beberapa pejabat negara tentang LGBT di media massa di kantor LBH Jakarta, 27 Januari 2016. TEMPO/Arief Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia memberikan penghargaan bergengsi Suardi Tasrif Award 2016 pada Forum LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseksual dan Queer) dan Kelompok International People Tribunal (IPT) 1965 pada peringatan ulangtahun ke-22 AJI Indonesia di Hotel Sari Pan Pacific, Jl Thamrin, Jakarta, Jumat 26 Agustus 2016.   

    Forum LGBTIQ adalah kumpulan sejumlah organisasi, individu dan kelompok yang memperjuangkan hak kaum LGBT di Indonesia. Sedangkan Kelompok IPT 1965 terdiri dari komunitas para korban, peneliti, advokat, praktisi hukum dan sejumlah organisasi yang peduli pada tragedi 1965.

    Penetapan dua penerima penghargaan ini diputuskan oleh Dewan Juri yang terdiri dari Nezar Patria (anggota Dewan Pers), Ignatitus Haryanto (Lembaga Studi Pers dan Pembangunan/ LSPP) dan Luviana (Penerima Tasrif Award 2013).  

    Dalam catatannya, Dewan Juri menegaskan bahwa latar belakang penerima Tasrif Award adalah pemahaman bahwa tahun 2016 ini adalah tahun yang riuh oleh isu kebebasan berpendapat dan berekspresi. "Sejumlah kelompok masyarakat yang menyuarakan pandangan dan sikap, dan beragam kegiatan mereka itu semestinya dilindungi sebagai wujud kebebasan berpendapat, namun justru mendapat ancaman serius," kata salahsatu dewan juri, Nezar Patria.


    "Mereka bukan hanya dipinggirkan secara wacana tetapi juga ditekan secara fisik. Misalnya kita menyaksikan beragam bentuk pembubaran kegiatan damai yang diselenggarakan oleh kelompok dan komunitas masyarakat sipil ini, bahkan mereka mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan dan pengusiran," kata Nezar.

    Di tengah banyaknya tabu warisan kekuasaan masa lalu, Forum LGBTIQ dan Kelompok IPT 1965  dengan berbagai cara, memilih berjuang untuk menyuarakan hak-hak mereka. "Mereka memberikan contoh keberanian serta membuka mata, bahwa kekerasan dan diskriminasi atas hak dasar manusia adalah sesuatu yang harus dilawan," kata anggota dewan juri yang lain, Luviana. "Kelompok ini juga menderita oleh stigma yang terus melekat dan dilekatkan tanpa pernah mendapat kesempatan yang adil untuk berbicara dan menyampaikan kegelisahan dan kebutuhan mereka sebagai warga negara," kata Luviana.

    "Apa yang diperjuangkan oleh lembaga, kelompok dan komunitas ini sebetulnya adalah reaksi ketika negara berdiam diri dan tak melakukan perlindungan atas hak mereka sebagai warga," kata Ignatius Haryanto, anggota Dewan Juri Tasrif Award.  "Bertubi-tubi aksi diskriminasi terjadi di ruang publik, semisal larangan muncul di media televisi dan radio, larangan untuk berpendapat dan berekspresi dalam berbagai penyelenggaraan acara, dan rencana pemblokiran situs mereka di jaringan internet," kata Haryanto dengan nada menyesalkan.  

    "Kami melihat perjuangan yang mereka lalukan adalah bentuk kebebasan berpendapat dan berekspresi, yang mengajak semua warga negara untuk memperbaiki apa yang menjadi problem politik warisan masa lalu, serta memberikan tempat setara bagi mereka yang selama ini terpinggirkan," kata Haryanto.

    Dewan Juri Tasrif Award berharap penghargaan kepada  Forum LGBTIQ dan Kelompok IPT 1965 akan mengarahkan kita pada suatu penghormatan lebih besar kepada pesan yang disuarakan oleh kelompok tersebut, dan juga sebagai upaya menuju rekonsiliasi nasional. "Penghargaan ini kami harap akan menyemangati dua kelompok agar terus berjuang dalam hal persamaan hak, dan juga dalam hal mendapatkan informasi yang utuh tentang tragedi di masa lalu terutama bagi pendewasaan kita sebagai sebuah bangsa berdaulat dan beradab seperti yang dicita-citakan para pendiri Republik Indonesia," kata Luviana.

    Pada malam penghargaan Suardi Tasrif Award ini, perwakilan kedua kelompok yang menerima penghargaan ini mendapat kesempatan berpidato. Forum LGBTIQ diwakili oleh dua aktivisnya: Abhipraya Ardiansyah Muchtar dan Kanza Vina, dan mereka menyampaikan pernyataan yang sangat menyentuh.  Ketika berpidato, Kanza, sempat beberapa kali terisak ketika menceritakan pengalamannya didiskriminasi sebagai waria.  Ini pidato lengkap penerimaan award dari Forum LGBTIQ:

    Pidato dari Abhipraya Ardiansyah Muchtar:

    "Assalamualaikum wr. wb.

    Nama saya, Abhipraya Ardiansyah Muchtar, biasa dipanggil Abhi. Saya mewakili Forum Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer Indonesia (Forum LGBTIQ Indonesia) guna menerima Penghargaan Suardi Tasrif.

    Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Aliansi Jurnalis Independen ... juga selamat ulang tahun, merayakan Deklarasi Sirnagalih.

    Penghargaan ini membuat harapan kami lebih besar. Penghargaan ini menghibur kami ketika minggu-minggu ini,kaum LGBTIQ, dibanjiri informasi, propaganda dan kecurigaan, lewat media sosial maupun media mainstream, yang berisi ketidaktahuan soal seksualitas dari individu-individu macam saya.

    Kami berterima kasih kepada rekan-rekan dari LBH Jakarta, organisasi yang senantiasa mendampingi kami, sejak 1973 ketika LBH Jakarta membela Iwan Robbyanto Iskandar untuk mengubah status hukum, dari seorang lelaki menjadi perempuan bernama Vivian Rubianti Iskandar. Bukan kebetulan bahwa almarhum Suardi Tasrif adalah salah seorang pendiri LBH Jakarta.

    Kami juga berterima kasih kepada beberapa organisasi lain yang banyak membantu kami: Komnas HAM; Komnas Perempuan; Indonesian Crime Justice Reform; LBH Masyarakat serta Human Rights Watch.

    Hadirin sekalian,
    Saya ditentukan sebagai perempuan saat lahir. Saya lahir di Jakarta tahun 1991 dalam keluarga Muslim Jawa. Sejak kecil, saya dicekoki dengan aturan-aturan sebagai perempuan Jawa dan Muslim. Sejak kecil, saya dicekoki aturan-aturan tidak tertulis yang mengikat sebagai perempuan Jawa dan Muslim.

    Namun saya ingat saat bermain dengan teman-teman, saya kesal karena tidak bisa kencing berdiri. Saya juga kesal karena tidak boleh ke masjid dengan teman-teman saya laki-laki.

    Saat usia 5 tahun, adik saya lahir. Orang sering bertanya, ingin dipanggil apa saya nanti. Saya ingat, jawabannya hanya satu, “Mas”.
     
    Namun orang tua minta saya dipanggil “Mbak.”

    Ketika mulai sekolah, saya tidak suka harus memakai rok ke sekolah. Perlahan-lahan, pengetahuan saya yang sempit, membuat saya menerima dilabeli sebagai butch (lesbian maskulin).

    Ruang gerak saya berubah ketika lulus sekolah menengah. Saya pergi kuliah di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Saya juga jadi wartawan mahasiswa di majalah Equilibrium.

    Jadi saya kenal dengan jurnalisme. Saya biasa wawancara, mencari sumber, menulis berita piramida terbalik maupun feature.

    Di Yogyakarta, saya potong rambut sampai hampir habis. Saya merasa nyaman dengan rambut pendek.

    Namun, hati kecil saya tetap berontak. Ketika usia 21 tahun, saya menemukan istilah yang menjelaskan keadaan saya: transgender. Saya bertemu dengan seorang kawan dengan keadaan sama dengan saya. Tepatnya, seorang transgender, dari perempuan ke lelaki, female to male, atau trans laki-laki.

    Setelah lulus kuliah, saya bekerja di Jakarta. Saya bertemu dengan teman-teman yang memberikan informasi tentang psikiater dan androlog yang biasa melayani trans laki-laki. Saya beruntung bertemu dengan kawan-kawan dalam Forum LGBTIQ dan sejak umur 23 tahun saya mulai terapi hormon.

    Hadirin sekalian,
    Seksualitas adalah sesuatu yang dalam. Ia tampaknya tak cukup dimengerti dengan pendekatan biner: lelaki dan perempuan. Ia juga tak cukup dikatakan sebagai kelainan. Kami sendiri tidak ingin ditempatkan dalam posisi dimana kami harus banyak bertanya.

    Pribadi macam saya memilih terapi hormon dan operasi. Namun banyak rekan saya, individu transgender, baik laki-laki maupun perempuan, yang merasa nyaman dengan tubuh mereka, nyaman dengan pakaian mereka.

    Ada Menteri Agama Lukman Saifuddin yang baik hati di sini.

    Saya mau menyampaikan bahwa selama 71 tahun Indonesia merdeka, orang-orang LGBTIQ tidak dilindungi juga tidak dibantu di Indonesia. Namun kami juga tidak dikriminalisasi. Pak Menteri tentu tahu ada anggota kabinet yang gay dalam kabinet Presiden Soeharto.

    Kini ada usaha kriminalisasi LGBTIQ lewat mekanisme Mahkamah Konstitusi. Saya berharap pemerintah Indonesia, termasuk Pak Menteri, mau melihat keadaan kami yang serba sulit, sering dipojokkan, dan mendukung pendidikan publik, agar mengerti dan mau menghentikan upaya diskriminasi terhadap kami.

    Kami bahagia menerima penghargaan dari organisasi jurnalis ini. Ia memberikan harapan kepada kami –sekaligus tantangan kepada para jurnalis—terhadap jurnalisme yang lebih bermutu dalam liputan minoritas seksualitas di Indonesia.

    Penghargaan Suardi Tasrif ini bukan saja penghargaan terhadap kerja kami, Forum LGBTIQ, namun juga penghargaan terhadap citai-cita dan harapan masa depan Indonesia, yang lebih baik dimana kita semua bersama bekerja merawat kemerdekaan dan kebhinekaan.

    Terima kasih yang sebesar-besarnya dan selamat malam.

    Wassalamualaikum wr.wb."

    Berikut ini, pidato dari Kanza Vina :


    "Selamat malam dan salam damai buat hadirin sekalian,

    Nama saya, Kanza Vina, dari Forum LGBTIQ Indonesia. Saya seorang waria dari Bengkulu. Saya senang bisa berada di sini buat cerita kehidupan waria.

    Saya kelahiran 1993 di sebuah desa di Bengkulu. Ketika mulai sekolah, makin tahun, saya makin sering jadi korban ejekan dan cemoohan karena saya feminin. Ketika pelajaran agama, saya menjadi “alat peraga" karena penampilan saya. Saya dibilang “umat Nabi Luth.” Kegiatan sekolah perlahan jadi kegiatan penuh ketakutan. Dulunya, saya berharap sekolah adalah tempat terindah untuk belajar, berkawan dan menjadi ceria. Tapi itu tidak terjadi dengan saya.

    Saat kelas satu SMP, saya dipaksa oleh beberapa kakak kelas, sekitar 10 orang, melakukan oral sex. Saya mengadu ke guru. Harapannya, mendapatkan perhatian dan perlindungan. Namun guru malah menyalahkan saya karena feminin dan "bencong." Sampai sekarang saya masih trauma.

    Saya mau bicara dengan keluarga pun sangat takut.

    Mulai saat itu saya malas untuk sekolah dan sering bolos. Lantas ada surat dari sekolah sampai ke rumah. Orang tua bilang saya berhenti sekolah saja. Saya berharap orang tua memindahkan saya ke sekolah yang lebih baik. Namun orang tua minta saya tinggal di rumah.

    Setahun di rumah saya tanpa melakukan apa-apa. Saya jadi bosan.

    Satu hari saya diajak kawan untuk ke kota Bengkulu mengadu nasib. Umur sekitar 15 tahun. Di Bengkulu, saya jadi pekerja seks buat bertahan hidup. Preman menjadi kawan juga musuh. Saya acapkali digebukin karena tidak setoran. Padahal saya tidak dapat tamu, makan pun susah.

    Saya lantas bertemu dengan mak waria yang memberi tempat  tinggal dan pekerjaan di salon. Walau tidak mendapatkan gaji, saya senang karena mendapatkan tempat tinggal, makanan, ilmu bersalon serta rasa aman.

    Beberapa tahun di Bengkulu, saya bertemu dengan emak saya. Emak terlihat sangat kurus dan susah. Emak memikirkan saya. Emak minta saya pulang.

    Saya kembali ke rumah berkumpul bersama bapak dan emak. Saya buka usaha di kampung. Dalam perjalanannya, ternyata abang saya tidak senang dengan kehadiran saya. Bapak mencari jalan keluar. Pada 2009, saya dibekali Rp 5 juta untuk memulai usaha di tempat lain.

    Saya umur 19 tahun. Seorang kawan mengajak saya pergi ke kota paling ramai di Indonesia: Jakarta. Namun modal Rp 5 juta di Jakarta tak banyak nilainya apalagi hanya ijasah SD. Saya kembali menjadi pekerja seks dengan harapan dibayar mahal oleh pelanggan Jakarta. Pekerjaan seks di Jakarta pun harus berteman dengan preman dan Satpol PP agar tidak ditangkap.

    Hadirin sekalian,
    Tahun 2011 saya bertemu dengan sanggar waria remaja: SWARA. Saya merasa lebih tenang, belajar tentang tentang diri sendiri, tentang kawan-kawan waria, lesbian, gay, transgender, tentang miskin kota, tentang hak asasi manusia. Semuanya tidak pernah saya dapat di bangku sekolah.

    Tahun 2013 saya memutuskan bekerja secara penuh dengan kawan-kawan di gerakan LBGTIQ lewat SWARA. Saya belajar bersama organisasi-organisasi LGBTQI lain termasuk Arus Pelangi, Ardhanary Institute, Jaringan Gaya Warna Lentera dan Forum LGBTIQ Indonesia.

    Saya belajar bahwa seksualitas bukan penyakit. Ia bukan sesuatu untuk disembuhkan. Saya belajar dari banyak kawan bahwa seksualitas mereka sudah ada sejak mereka masih kecil. Ketika masih kecil perlahan-lahan mereka merasakan. Di keluarga saya tidak seorang pun yang waria kecuali saya.

    Gerakan LGBTIQ adalah gerakan demokrasi paling muda di Indonesia. Kami belajar banyak dari gerakan-gerakan lainnya, dari gerakan kebebasan beragama sampai hak perempuan.

    Kami belajar bahwa kita harus berjalan bersama, bergandengan tangan, belajar menerima  perbedaan, demi Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika.

    Jalan panjang dan berliku tetap ada namun kami percaya satu hari kita semua akan mendapatkan kemenangan.

    Terima kasih kepada semua kawan LGBTIQ yang gigih berjuang, melawan ketidakadilan, berada di garis depan. Percayalah bahwa kamu tidak sendiri.

    Terima kasih buat kawan-kawan demokrasi yang terus berada bersama kami melawan ketidakadilan.

    Terima kasih buat Komnas HAM dan Komnas Perempuan.

    Terimakasih kepada kawan-kawan dari Aliansi Jurnalis Independen yang terus berjuang demi jurnalisme bermutu di Indonesia."

    RILIS | WD
     


  • AJI
  •  

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Ucapan Pedas Duterte, Memaki Barack Obama dan Dukung Perkosaan

    Presiden Filipina Rodrigo Duterte sering melontarkan ucapan kontroversial yang pedas, seperti memaki Barack Obama dan mengancam pemberontak wanita.