Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, 2 Anggota Jemaah Haji Bengkulu Meninggal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang jemaah haji menggunakan masker saat berada di Rumah Sakit Spesialis Al-Noor, Mekah, 30 September  2014. REUTERS/ Muhammad Hamed

    Seorang jemaah haji menggunakan masker saat berada di Rumah Sakit Spesialis Al-Noor, Mekah, 30 September 2014. REUTERS/ Muhammad Hamed

    TEMPO.CO, Bengkulu - Sebagian besar anggota jemaah haji asal Bengkulu mengalami penurunan kondisi fisik. Selain harus beradaptasi dengan kondisi iklim, mereka menghadapi cuaca ekstrem yang saat ini terjadi di Arab Saudi.

    Menurut Penjabat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Bengkulu Bustasar, akibat penurunan kondisi tubuh ini, dua anggota jemaah haji asal Bengkulu meninggal. "Dari laporan terakhir yang kami terima, anggota jemaah yang meninggal tersebut berasal dari Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kabupaten Bengkulu Tengah," kata Bustasar, Jumat, 26 Agustus 2016.

    Terkait dengan kondisi ini, Kementerian telah berulang kali mengimbau seluruh jemaah untuk dapat terus menjaga kondisi tubuh dengan menjaga pola makan dan mengkonsumsi air mineral yang cukup.

    Bustasar berujar, anggota jemaah haji asal Kabupaten Bengkulu Tengah yang diketahui meninggal tersebut atas nama Tasniah, 76 tahun. Dia meninggal pada Kamis, 18 Agustus 2016. Sedangkan jemaah haji asal Kabupaten Bengkulu Utara yang meninggal atas nama Din Azhari, 72 tahun, pada Ahad, 21 Agustus 2016.

    Keduanya diketahui tergabung dalam kloter 3 Embarkasi Bengkulu atau kloter 5 Embarkasi Padang, Sumatera barat. "Diinformasikan, almarhum sebelum meninggal dunia sempat mengeluh sesak napas," ujarnya.

    Menurut dia, pihak Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bengkulu telah menyampaikan  informasi tersebut kepada keluarga almarhum di Bengkulu Tengah dan Bengkulu Utara.

    PHESI ESTER JULIKAWATI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.