Calon Hakim Agung Siap Mundur jika Tak Siap Fisik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana seleksi wawancara calon hakim agung dan calon hakim ad hoc Tipikor Mahkamah Agung di Gedung Komisi Yudisial, Jakarta, 20 Juni 2016.  TEMPO/Subekti.

    Suasana seleksi wawancara calon hakim agung dan calon hakim ad hoc Tipikor Mahkamah Agung di Gedung Komisi Yudisial, Jakarta, 20 Juni 2016. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.COJakarta - Calon hakim agung Setyawan Hartono mengatakan motivasinya mencalonkan diri sebagai hakim agung adalah bentuk tanggung jawabnya terhadap dunia hukum. "Walau memang jabatan sebagai hakim agung merupakan jabatan tertinggi dari hakim," ujar Setyawan di ruang rapat Komisi III Gedung DPR MPR Senayan, Jakarta, Kamis, 25 Agustus 2016. 

    Komisi III DPR RI mulai melakukan fit and proper test terhadap lima calon hakim agung dan dua calon hakim ad hoc Tipikor. Nama yang diusulkan adalah Dr Ibrahim (perdata), Panji Widagdo (perdata), Setyawan Hartono (perdata), Hidayat Manao (militer), dan Edi Riadi (agama). Sedangkan calon hakim ad hoc Tipikor di MA Dermawan S. Djamian dan Marsidin Namawi.

    Masinton Pasaribu dari Fraksi PDI Perjuangan mempertanyakan landasan Setyawan berani mengajukan diri sebagai calon hakim agung. Kemudian, Masinton mempertanyakan filosofi hakim agung yang harus berintegritas dan konsekuensi apa yang akan dilakukan ketika melanggar hukum bila nanti terpilih dan menjabat hakim agung. "Tolong dijelaskan dengan jelas dan singkat," katanya. 

    Setyawan menjelaskan, keberaniannya untuk mengajukan diri sebagai hakim karena pengalaman sebagai hakim selama 30 tahun sudah mencukupi. "Dan mencalonkan ini menjadi tanggung jawab bagi saya, bukan pilihan," ucapnya. 

    Filosofi hakim agung berintegritas, menurut Setyawan, adalah hakim yang tidak akan berbuat tidak pantas dalam hal apa pun. "Karena dari usia dan pengalaman sudah matang," ujarnya. Setyawan menyatakan rela mundur apabila melanggar hukum setelah terpilih sebagai hakim agung. "Bila sudah tak kuat secara fisik pun, saya berani mundur," katanya. 

    Pimpinan fit and proper test Komisi III Benny Kabur Harman mengatakan banyak sekali mafia di Mahkamah Agung, baik dari hakim maupun proses hukum yang sedang berjalan. "Mafia itu tercium baunya tapi susah ditangkap," katanya. 

    Karena itu, seorang hakim agung harus berintegritas dan berani. Masalah mafia hukum di Mahkamah Agung, menurut Benny, menjadi salah satu tugas hakim agung terpilih nantinya. "Harus diusut tuntas," ujarnya. 

    ODELIA SINAGA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.