Pekanbaru Memanas, Ini Pemicu Amuk Massa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi penembakan polisi

    ilustrasi penembakan polisi

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Kematian Apri Adi Pratama, warga Kepulauan Meranti, tersangka pembunuhan anggota Kepolisian Resor Meranti, Brigadir Adil S. Tambunan, berbuntut panjang. Kematian Apri Adi Pratama memicu kemarahan penduduk dan menyulut mereka melakukan tindakan anarkis.

    Penduduk tidak bisa menerima kematian Apri Adi Pratama. Mereka menuding polisi bertanggung jawab atas kejadian ini. Sebab pria 24 tahun itu tewas setelah ditangkap polisi.

    Baca: Tersangka Pembunuh Polisi Tewas, Polres Meranti Dilempari

    Ratusan warga Selatpanjang yang sudah tersulut emosinya bergerak menggeruduk kantor Kepolisian Resor Meranti. Situasi semakin memanas setelah massa menerobos blokade polisi
    dan berusaha menduduki kantor polisi.

    Jumlah personel Polres Meranti tidak seimbang dengan jumlah massa. Karena itu massa dengan mudah menembus blokade dan melempari markas dengan batu. Polisi tidak tinggal diam. Tembakan peringatan dilepaskan. Namun, tidak mampu menghalau massa. Mereka justru semakin berani untuk bertahan di halaman Mapolres sambil membakar ban.

    Hingga petang, kondisi di sekitar Mapolres masih mencekam. Asap hitam terlihat dari bekas ban-ban yang terbakar. Jumlah penduduk semakin bertambah. Apalagi setelah seorang penduduk dikabarkan tewas kena tembakan polisi. (Baca: Massa Serang Polres Meranti, Satu Warga Dilaporkan Tewas)

    Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Riau Ajun Komisaris Besar Guntur Aryo Tejo membantah isu itu. "Tidak ada yang ditembak," katanya. Menurut Guntur, penduduk yang tewas itu terkena lemparan batu saat terjadi kerusuhan. Hingga petang, identitas penduduk yang tewas itu belum diketahui. 

    Untuk meredam aksi massa, Polda Riau mengerahkan empat satuan setingkat kompi (SKK) Brimob. "Dua SSK dari Brimob Bengkalis dan 2 SSK lagi dari kesatuan polres terdekat," kata Guntur. Kepala Polres Meranti Ajun Komisaris Asep Iskandar terus berupaya melakukan pendekatan kepada masyarakat.

    Guntur mengatakan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Riau sudah diturunkan untuk menyelidiki kematian Apri. Propam bakal menelisik prosedur penangkapan dan menyelidiki penyebab kematian Apri. "Jika terbukti terjadi kesalahan prosedur, tetap akan diproses secara hukum," katanya.

    Berdasarkan keterangan Kapolres Meranti, penangkapan terhadap Apri sudah sesuai prosedur. Polisi terpaksa menembak kaki Apri karena dia melawan saat ditangkap. "Pelaku melakukan perlawanan dengan badik," kata Guntur. Apri akhirnya tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.  

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.