Meski Kemarau, Pekalongan Masih Terendam Luapan Air Laut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah buruh melintasi genangan banjir air laut di Kelurahan Trimulyo, Semarang, 31 Mei 2016. Data BMKG ketinggian pasang mencapai 1 meter. TEMPO/Budi Purwanto

    Sejumlah buruh melintasi genangan banjir air laut di Kelurahan Trimulyo, Semarang, 31 Mei 2016. Data BMKG ketinggian pasang mencapai 1 meter. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Pekalongan - Meski sudah lama tidak diguyur hujan, ratusan rumah di Kelurahan Pabean dan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kelurahan Pasirsari, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, terendam luapan air laut atau rob. “Masih ada rob di daerah rob,” kata Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Pekalongan Hengky Susilo kepada Tempo, Kamis, 25 Agustus 2016.

    Di Bandengan, rob menggenangi perumahan dengan ketinggian 5-10 sentimeter. “Di Kelurahan Bandengan kana-kiri dikelilingi oleh rawa-rawa, jadi sulit untuk menghindari rob.” Namun, warga masih beraktivitas seperti biasa. 

    Di Pabean, limpasan air laut tidak lebih parah. Di sana ketinggian genangan hanya kurang dari 5 sentimeter. Berbeda dengan Bandengan, banjir air laut di Pabean disebabkan drainase yang buruk. Menurut Hengky, banyaknya jalan yang ditinggikan membuat air yang masuk rumah sulit untuk keluar lagi. “Air gampang masuk, tapi setelah itu menggenang karena tak ada jalan keluar.”

    Banjir air laut, kata dia, juga membuat sejumlah kawasan pertanian berubah menjadi rawa-rawa. Lahan pertanian yang sudah lama digenangi air, ditumbuhi eceng gondok. Dia mengaku tidak tahu berapa luas lahan yang digenangi air laut. Lahan pertanian pun sudah beralih fungsi.

    Di sejumlah rumah di Kelurahan Pasirsari, air laut menggenang sampai setinggi 50 sentimeter. “Bahkan ada yang sampai 80 sentimeter, hingga setinggi kaca jendela rumah,” ujar Suryadi, 37 tahun. Kendati demikian, sebagian warga sekitar masih menempati rumah itu. Sebagian lagi memilih berpindah tempat tinggal ke rumah saudara mereka.

    Menurut dia, kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Berbagai upaya dilakukan agar warga terbebas dari banjir air laut. Salah satunya dengan memasang pompa air untuk menyedot air yang masuk ke rumah-rumah. “Ada enam pompa yang dipasang, tapi sudah tidak maksimal lagi,” ujar Suryadi, yang juga seorang pegiat lingkungan dalam Forum Rawat Pekalongan Bersatu (FRPB). Hal lain yang turut memperparah penanganan rob adalah peninggian jalan yang tidak diikuti dengan perbaikan drainase.

    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.